MARKET DATA
Internasional

Resesi, Resesi, Resesi! Perang Iran Bawa Amerika ke Jurang Resesi

sef,  CNBC Indonesia
11 March 2026 06:27
[DALAM] Resesi
Foto: Arie Pratama

Jakarta, CNBC Indonesia - Perekonomian Amerika Serikat (AS) yang selama beberapa tahun terakhir terbukti tangguh kini menghadapi ujian baru. Ini adalah perang di Timur Tengah.

Perang antara AS dan Iran memicu gangguan besar terhadap pasokan minyak global serta lonjakan harga energi. Hal tersebut berpotensi mengguncang ekonomi dunia.

Gangguan pasokan minyak yang terjadi disebut-sebut sebagai salah satu yang terbesar dalam sejarah. Lonjakan harga minyak mendorong kenaikan biaya berbagai sektor, mulai dari bensin dan solar hingga bahan bakar pesawat.

Sejumlah ekonom memperingatkan bahwa krisis ini meningkatkan risiko terjadinya resesi di AS. Terlebih, ekonomi Negeri Paman Sam sebenarnya sudah terlihat rapuh sebelum konflik meningkat di Timur Tengah.

"Ekonomi AS sudah berada di ambang resesi cukup lama," kata profesor ekonomi di University of Michigan, Justin Wolfers, dimuat CNN International, Rabu (11/3/2026).

"Dibutuhkan satu pemicu saja untuk menjatuhkannya. Apakah minyak bisa menjadi pemicunya? Sangat mungkin," tambahnya.

Meski begitu, sebagian besar ekonom masih memperkirakan ekonomi AS dapat menghindari resesi. Pasar saham memang mengalami pelemahan, tetapi belum cukup dalam untuk menunjukkan bahwa investor memprediksi perlambatan ekonomi besar dalam waktu dekat.

Jika konflik mereda dan jalur pelayaran minyak di Selat Hormuz kembali normal, harga minyak diperkirakan dapat turun mendekati level sebelum perang. Namun demikian, pasar prediksi menunjukkan risiko resesi meningkat signifikan.

Peluang resesi di AS tahun ini sempat melonjak hingga sekitar 35% ketika harga minyak AS menyentuh sekitar US$119 per barel pada awal pekan ini. Sebagai perbandingan, pada awal Februari probabilitasnya masih sekitar 20%.

Kepala Ekonom AS di RSM, Joe Brusuelas, mengatakan risiko resesi memang meningkat. Tetapi, belum berada pada tahap yang mengkhawatirkan.

"Ekonomi AS adalah mesin ekonomi senilai US$30 triliun yang dinamis dan tangguh. Masih ada ruang untuk menyerap guncangan dari kenaikan harga minyak," ujarnya.

Risiko dari Lonjakan Harga Energi

Menurut Brusuelas, risiko resesi akan meningkat tajam jika beberapa indikator utama tercapai. Yaitu harga minyak naik hingga US$125 per barel, harga bensin mencapai US$4,25 per galon, dan inflasi kembali meningkat hingga sekitar 4% per tahun.

Saat ini, harga bensin sudah naik sekitar 50 sen per galon, dari US$2,98 sebelum perang menjadi sekitar US$3,48.

Kenaikan yang cepat tersebut mengejutkan konsumen.

"Kecepatan kenaikan harga bensin di SPBU membuat konsumen kaget. Tetapi masih perlu kenaikan yang jauh lebih besar untuk memicu resesi," kepala ekonom KPMG, kata Diane Swonk.

Menurut Moody's Analytics, setiap kenaikan harga minyak sebesar US$10 per barel yang berlangsung lama diperkirakan dapat menambah beban sekitar US$450 per tahun bagi rumah tangga rata-rata di AS. Dampaknya cukup krusial karena ekonomi Amerika sangat bergantung pada konsumsi masyarakat.

Jika konsumen mulai mengurangi belanja, perjalanan, atau makan di luar, bisnis dapat menekan biaya dengan mengurangi tenaga kerja. Hal ini berpotensi menciptakan efek domino yang pada akhirnya memicu resesi.

Pasar Tenaga Kerja Mulai Rapuh

Kondisi pasar tenaga kerja AS saat ini juga dinilai lebih rentan dibandingkan ketika terjadi lonjakan harga minyak akibat invasi Rusia ke Ukraina pada 2022. Saat itu, ekonomi AS masih mampu menciptakan ratusan ribu lapangan kerja setiap bulan.

Kini situasinya berbeda. Sepanjang 2025, ekonomi AS hanya menambah sekitar 116.000 pekerjaan, angka terendah di luar masa resesi sejak 2002.

Bahkan dalam sembilan bulan terakhir, ekonomi kehilangan pekerjaan dalam lima bulan. Kombinasi antara kehilangan pekerjaan dan kenaikan harga bensin menjadi tekanan berat bagi ekonomi.

"Ini pukulan ganda yang sangat buruk bagi ekonomi," kata kepala strategi global di JPMorgan Asset Management, David Kelly.

Meski demikian, Kelly masih percaya ekonomi AS dapat melewati masa sulit ini. Terutama dengan adanya potensi peningkatan pengembalian pajak bagi keluarga Amerika dari kebijakan fiskal terbaru pemerintah.

Risiko dari Pasar Saham

Risiko lain yang bisa memicu resesi adalah penurunan tajam di pasar saham. Jika indeks saham AS jatuh hingga 20% dari puncaknya, kondisi tersebut dapat menekan belanja konsumen, terutama dari kalangan berpenghasilan tinggi yang selama ini menjadi motor utama konsumsi. Presiden Yardeni Research, Ed Yardeni, mengatakan harga minyak tidak harus melonjak ekstrem untuk memicu dampak negatif.

"Jika harga minyak bertahan di sekitar US$100 per barel dan menekan pasar saham, dampaknya bisa terasa pada konsumen berpendapatan tinggi," ujarnya.

Yardeni memperkirakan kemungkinan skenario "kehancuran pasar" yang disertai resesi naik dari 5% menjadi sekitar 20%.

Kepercayaan Bisnis Jadi Faktor Penentu

Selain konsumen dan pasar saham, resesi juga dapat dipicu oleh melemahnya kepercayaan dunia usaha.

Perusahaan yang sebelumnya sudah ragu untuk memperluas usaha atau merekrut karyawan baru bisa semakin menahan diri jika harga energi terus naik dan ketidakpastian geopolitik meningkat.

"Kondisi pasar tenaga kerja sudah menunjukkan tanda pelemahan. Jika perekrutan semakin melambat, hanya dibutuhkan satu guncangan lagi untuk memicu masalah yang lebih besar," kata Kelly.

(sef/sef) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Outlook Global: Bagaimana Dunia di 2026, Trump, Perang hingga Resesi?


Most Popular
Features