MARKET DATA

Ini Alasan Purbaya Evaluasi APBN 1 Bulan Lagi, Meski Minyak Melejit

Emir Yanwardhana,  CNBC Indonesia
10 March 2026 17:18
Pelantikan Pejabat di Lingkungan Kementerian Keuangan di Aula Dhanapala, Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (10/3/2026). (Tangkapan layar)
Foto: Pelantikan Pejabat di Lingkungan Kementerian Keuangan di Aula Dhanapala, Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (10/3/2026). (Tangkapan layar)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan alasan pihaknya akan evaluasi terhadap anggaran subsidi BBM di APBN 2026 dalam kurun waktu 1 bulan, pasca kenaikan harga minyak dunia imbas perang di timur tengah.

Hal ini menjawab pertanyaan adanya tekanan supaya pemerintah melakukan upaya dalam waktu dekat, pasca kenaikan harga minyak dunia hingga tembus di level US$ 100 per barel, kemarin.

"Siapa yang bilang? kalau turun gimana? kan dia nggak ke market. Siapa yang bilang, emang dia analis pasar yang betulan. Kalau Anda analis minyak, (harga) itu bisa bisa turun cepat loh," kata Purbaya, dengan nada tinggi, di Kompleks Istana Kepresidenan, Selasa (10/3/2026).

Purbaya menjelaskan fluktuasi harga minyak saat ini berlangsung cepat untuk menjadi acuan perhitungan. Sehingga dia menunggu waktu hingga 1 bulan ini untuk melihat perubahan dan melakukan perhitungan sebagai langkah antisipasi gejolak yang terjadi.

"Jadi kita pastikan betul nggak naik, betul nggak turun. Begitu beberapa hari beberapa minggu naik, ya udah kita antisipasi naik terus. Ini kan nggak, naik tiba-tiba turun lagi. Nanti kalau harga minyak turun kita ubah lagi repot kan," kata Purbaya.

Purbaya menegaskan respon dari faktor eksternal terhadap APBN itu harus dilakukan secara hati-hati. Hal itu tentunya berbeda dengan respons terhadap pergerakan harga saham, dengan horizon yang lebih pendek.

"Jadi nggak bisa seperti kita kita me-manage anggaran. Nggak bisa, sekarang ini bisa berubah lagi, sekarang ini bisa berubah lagi, capek lah gue kerjanya, ngerubah-rubah anggaran terus. Jadi kita pastikan seperti apa gerakannya. Setelah pasti, baru kita ajak semuanya," katanya.

"Saya pikir cukup (satu bulan evaluasi), sekarang ini berubah-ubah kan. Berapa anda yang pakai harganya? kemarin US$ 120 per barel tinggi, apa sekarang US$ 90 per barel. Kalau turun lagi gimana? kan berubah terus. Jadi kita nanti tebak arahannya yang sebetulnya seperti apa, kalau sudah pasti ya sudah kita ini," tambahnya.

(haa/haa) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Purbaya Ungkap Harga Asli BBM Pertalite Terbaru, Bukan Rp10.000/Liter


Most Popular
Features