BI Catat Indeks Penjualan Riil Tumbuh 5,7% di Januari 2026
Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Indonesia (BI) mengungkapkan Indeks Penjualan Riil (IPR) pada Januari 2026 secara tahunan tumbuh sebesar 5,7% (yoy).
Penjualan eceran ini tumbuh didukung oleh pertumbuhan penjualan Kelompok Barang Budaya dan Rekreasi, Makanan, Minuman, dan Tembakau, serta Subkelompok Sandang.
Namun, secara bulanan, penjualan eceran pada Januari 2026 terkontraksi sebesar 2,7% (mtm) sejalan dengan normalisasi konsumsi masyarakat setelah HBKN Natal dan Tahun Baru.
"Kelompok barang budaya dan rekreasi, menjadi salah satu kelompok yang tercatat tumbuh 3,0% (mtm), sementara kelompok lain tercatat berada di zona kontraksi," ungkap Ramdan Deni, Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI), Selasa (10/3/2026).
Kelompok peralatan informasi dan komunikasi, suku cadang dan aksesoris, makanan, minuman dan tembakau dan subkelompok sandang mengalami kontraksi masing-masing 7,7%; 3,8%; 2,5% dan 3%.
Adapun, BI melihat Indeks Penjualan Riil (IPR) Februari 2026 yang secara tahunan diprakirakan tumbuh sebesar 6,9% (yoy).
Kinerja penjualan eceran tersebut didorong oleh meningkatnya penjualan mayoritas kelompok, terutama Kelompok Suku Cadang dan Aksesori, Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya, dan Subkelompok Sandang.
"Secara bulanan, penjualan eceran pada Februari 2026 diprakirakan meningkat sebesar 4,4% (mtm)," katanya.
Peningkatan tersebut didorong oleh permintaan masyarakat saat Ramadan dan persiapan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri 1447 H.
Dari sisi harga, tekanan inflasi tiga bulan yang akan datang, yaitu April 2026, diprakirakan turun, sementara pada enam bulan yang akan datang, yaitu Juli 2026, diprakirakan meningkat.
Hal ini tecermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) April 2026 sebesar 153,9, lebih rendah dibandingkan dengan IEH pada Maret 2026 sebesar 175,7, seiring normalisasi harga pasca HBKN Idulfitri 1447 H.
Sementara itu, IEH Juli 2026 diprakirakan sebesar 157,1, lebih tinggi dibandingkan dengan IEH pada Juni 2026 sebesar 156,3, didorong oleh peningkatan harga saat tahun ajaran baru.
(haa/haa) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]