MARKET DATA
Internasional

Negara Eropa Ini Mulai Jadi 'Narco-State': Hakim Takut Kartel Narkoba

Tommy Patrio Sorongan,  CNBC Indonesia
09 March 2026 21:20
Belgium's Africa Museum is seen before its reopening to the public on December 9, 2018, after five years of renovations to modernise the museum from pro-colonial propaganda exhibits to one that condemns colonisation, in Tervuren, Belgium December 6, 2018. Picture taken December 6, 2018.  REUTERS/Yves Herman
Foto: Belgia (REUTERS/Yves Herman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Stabilitas sosial di Belgia kini berada dalam posisi terancam akibat cengkeraman kejahatan narkoba internasional yang kian mengkhawatirkan. Seorang hakim senior memberikan peringatan keras bahwa negara tersebut sedang berevolusi menjadi "negara narco" di mana kelompok mafia mulai membentuk kekuatan paralel yang menantang tatanan hukum masyarakat.

Presiden Pengadilan Banding Antwerp, Bart Willocx, mengungkapkan bahwa Belgia sangat rentan terhadap kriminalitas penyelundupan narkoba melalui pelabuhan besar di kota tersebut. Sebagai salah satu titik masuk utama kokain ke Eropa, besarnya perputaran uang haram di sana telah mencapai tahap yang membahayakan fondasi negara.

"Jumlah uang yang terlibat untuk memengaruhi orang, merusak orang, dan menyuap sangatlah besar sehingga benar-benar menjadi bahaya bagi stabilitas masyarakat kita," ujar Willocx dalam wawancara khusus di pengadilannya dikutip Guardian, Senin (9/3/2026).

Peringatan ini menyusul langkah luar biasa Pengadilan Antwerp yang menerbitkan surat terbuka dari seorang hakim investigasi anonim pada Oktober lalu. Surat tersebut merinci bagaimana struktur mafia yang luas telah mencengkeram Belgia dan menjadi kekuatan yang berani menantang kepolisian hingga lembaga peradilan.

Willocx menegaskan bahwa saat ini Belgia sedang berupaya keras untuk menghindari predikat sebagai negara narco sepenuhnya. Namun, ia tidak menampik bahwa tekanan dan ancaman dari kartel narkoba terus meningkat seiring berjalannya waktu.

"Kami sedang berupaya menghindarinya, tetapi ini adalah sebuah evolusi dan tekanan, ini adalah sebuah ancaman," tegas Willocx.

Senada dengan hal tersebut, Jaksa Agung wilayah Antwerp dan Limburg, Guido Vermeiren, menyatakan kesetujuannya dengan kekhawatiran hakim anonim tersebut. Menurutnya, tingkat korupsi dan ancaman yang ada saat ini sudah sangat mengkhawatirkan bagi keberlangsungan negara.

"Kami sedang menjadi negara dengan banyak korupsi, dengan banyak ancaman," kata Vermeiren yang duduk berdampingan dengan Willocx.

Data dari Europol menunjukkan bahwa lebih dari 70% kokain yang masuk ke Eropa pada tahun 2024 melewati jalur Antwerp dan Rotterdam. Meskipun pada tahun 2024 jumlah sitaan turun menjadi 44 ton dari rekor 121 ton di tahun 2023, hal ini justru diduga karena para kriminal semakin lihai menyembunyikan narkoba secara kimia atau memindahkan operasional ke pelabuhan-pelabuhan kecil.

Vermeiren membeberkan betapa masifnya upaya suap yang dilakukan oleh geng narkoba terhadap pekerja pelabuhan. Dalam satu kasus, pelaku kriminal berani membayar lebih dari 250 ribu euro atau sekitar Rp 4,8 miliar kepada seorang pekerja pelabuhan hanya untuk memindahkan satu kontainer berisi barang haram.

"Mereka menerima surat, foto anak-anak mereka. Ada serangan di rumah mereka dengan bahan peledak rakitan," ungkap Vermeiren menggambarkan teror yang dialami pekerja yang menolak bekerja sama.

Kekejaman geng ini tidak berhenti di situ, karena mereka juga memanfaatkan anak-anak di bawah umur untuk menjalankan aksi kriminalnya. Anak-anak semuda 13 tahun dilaporkan dibayar dalam jumlah kecil untuk membobol pelabuhan dan mencuri kokain, tanpa peduli dengan keselamatan nyawa mereka.

"Geng-geng tersebut tidak tertarik pada apa yang terjadi dengan orang-orang itu," tambah Vermeiren.

Kondisi keamanan bagi para penegak hukum pun berada di titik nadir, di mana hakim dan pegawai rumah sakit telah disuap atau diintimidasi untuk membocorkan informasi rahasia, termasuk alamat rumah para hakim. Banyak hakim di Belgia kini terpaksa tinggal di rumah aman (safe house) dengan perlindungan permanen demi nyawa mereka.

Willocx menceritakan betapa beratnya beban mental yang harus ditanggung oleh rekan-rekannya yang harus bersembunyi dari kejaran kartel. Hal ini membuat banyak penegak hukum merasa tertekan dalam menjalankan tugasnya.

"Dari satu hari ke hari lain, Anda harus meninggalkan rumah, meninggalkan keluarga, dan Anda akan tinggal di suatu tempat di mana tidak ada yang tahu di mana Anda berada," tutur Willocx.

Krisis ini semakin diperparah dengan kondisi sistem peradilan Belgia yang dianggap berada di titik nadir akibat kurangnya pendanaan selama puluhan tahun. Willocx menyebutkan bahwa pengadilan bahkan masih menunggu pemasangan pemindai tas selama dua tahun, padahal peralatan keamanan tersebut sudah dijanjikan oleh pemerintah.

Ia pun memperingatkan bahwa jika tekanan dan kurangnya keamanan ini terus berlanjut, akan ada dampak fatal bagi sistem peradilan pidana di Belgia. Hakim mungkin akan mulai menghindari kasus-kasus berat karena mengkhawatirkan keselamatan diri dan keluarga mereka.

"Ada terlalu banyak tekanan pada jaksa atau hakim. Apa yang Anda lihat adalah jika kita terus seperti ini, sejumlah hakim akan memilih untuk tidak bekerja dalam urusan pidana karena alasan keamanan, karena tekanan yang sangat besar," pungkas Willocx.

(tps/sef) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Prabowo Ungkap Modus Ngeri Kartel Narkoba: Mereka Punya Kapal Selam!


Most Popular
Features