MARKET DATA

Bahlil Pastikan Harga BBM Tak Akan Naik Sampai Lebaran

Verda Nano Setiawan,  CNBC Indonesia
09 March 2026 13:50
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia memberikan keterangan kepada media saat meninjau pasokan BBM di SPBU Gerem Cilegon, Banten, Kamis (13/3/2025). (CNBC Indonesia/Verda Nano Setiawan)
Foto: Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia memberikan keterangan kepada media saat meninjau pasokan BBM di SPBU Gerem Cilegon, Banten, Kamis (13/3/2025). (CNBC Indonesia/Verda Nano Setiawan)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi tidak akan mengalami kenaikan dalam waktu dekat. Sekalipun harga minyak dunia telah menembus level di atas US$100 per barel.

Ia lantas mengimbau masyarakat untuk tidak perlu khawatir mengenai kenaikan harga BBM dalam negeri. Pasalnya, hingga Hari Raya Idulfitri harga BBM bersubsidi dipastikan tidak akan mengalami kenaikan.

"Sekali lagi saya pastikan agar masyarakat tidak usah merasa gimana-gimana menyangkut dengan harga, karena sampai dengan Hari Raya ini Insya Allah tidak ada kenaikan harga BBM untuk subsidi. Iya, untuk subsidi," kata Bahlil ditemui di Kementerian ESDM, Senin (9/3/2026).

Di sisi lain, Bahlil menambahkan pihaknya tengah menyiapkan berbagai langkah komprehensif untuk mengantisipasi dampak kenaikan harga minyak tersebut. Namun yang pasti, pasokan BBM nasional, termasuk yang dipenuhi melalui Pertamina tetap terjaga dengan baik.

"Pasokan gak ada masalah. Untuk puasa dan Hari Raya Idulfitri semuanya terjamin, gak ada masalah ya," ungkap Bahlil.

Seperti diketahui, harga minyak dunia kembali melonjak tajam pada perdagangan Senin pagi (9/3/2026). Hingga pukul 09.20 WIB, harga Brent tercatat di US$113,68 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di US$113,25 per barel. Lonjakan ini memperpanjang reli ekstrem yang telah berlangsung sejak akhir Februari.

Pergerakan harga menunjukkan percepatan yang sangat cepat dalam dua pekan terakhir. Brent yang masih berada di US$70,85 per barel pada 25 Februari, naik tipis ke US$72,48 (27 Februari) sebelum melonjak ke US$77,74 (2 Maret) dan US$81,4 (3-4 Maret).

Setelah itu reli semakin tajam dengan harga menyentuh US$85,41 (5 Maret), melonjak ke US$92,69 (6 Maret), dan akhirnya menembus US$113,68 pagi ini. WTI bergerak serupa, dari US$65,42 pada 25 Februari menjadi US$113,25 hari ini.

Lonjakan ini memperpanjang reli minyak setelah pekan lalu minyak mentah Amerika Serikat tercatat melonjak sekitar 35% dalam satu minggu, yang disebut sebagai kenaikan mingguan terbesar dalam sejarah perdagangan futures sejak 1983.

(pgr/pgr) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Video: November, Tarif Listrik Stabil Tapi Harga BBM Non-Subsidi Naik


Most Popular
Features