MARKET DATA

Harga Minyak US$100/ Barel, Ekonom Wanti-Wanti APBN Tekor Rp208 T

Zahwa Madjid,  CNBC Indonesia
09 March 2026 13:22
Ilustrasi kilang minyak, dan peta yang menunjukkan Selat Hormuz dan Iran tampak dalam ilustrasi ini yang diambil pada 2 Maret 2026. REUTERS/Dado Ruvic/Ilustrasi/Foto Arsip
Foto: Ilustrasi kilang minyak, dan peta yang menunjukkan Selat Hormuz dan Iran tampak dalam ilustrasi ini yang diambil pada 2 Maret 2026. REUTERS/Dado Ruvic/Ilustrasi/Foto Arsip

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak dunia kembali melonjak tajam pada perdagangan Senin pagi (9/3/2026). Pada hari ini, harga Brent tercatat di US$113,68 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di US$113,25 per barel.

Lonjakan ini memperpanjang reli ekstrem yang telah berlangsung sejak akhir Februari. Namun, kondisi ini dapat menimbulkan ancaman besar bagi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Chief Economist Permata Bank Josua Pardede menuturkan harga minyak dunia sudah menembus US$ 100 per barel, sehingga tekanan terhadap APBN Indonesia menjadi jauh lebih besar dibanding kisaran yang masih dinilai dapat ditahan pemerintah. Besaran harga ini jauh di atas level aman fiskal RI.

"Dalam simulasi kami, bila harga minyak berada di US$ 100 per barel dan nilai tukar rupiah berada di Rp17.000 per dolar AS, tambahan tekanan terhadap anggaran mencapai sekitar Rp208 triliun," kata Josua kepada CNBC Indonesia, Senin (9/3/2026).

Sebelumnya, menurut Wakil Menteri Keuangan Juda Agung, APBN masih mampu mengantisipasi harga minyak di kisaran US$ 80 sampai 90 per barel dengan defisit tetap di bawah 3% PDB. Sementara itu, APBN 2026 ditetapkan dengan target defisit Rp689,1 triliun atau 2,68% terhadap PDB.

Dengan, perhitungan Josua di atas, maka estimasi defisit APBN 2026 naik menjadi sekitar Rp897,1 triliun. Defisit berpotensi melebar signifikan bila harga minyak bertahan di US$ 100 per barel dan rupiah tetap lemah. Bahkan, menurut Josua, pada skenario minyak US$ 80 per barel dan rupiah Rp17.000 saja, defisit sudah diperkirakan naik menjadi Rp761,1 triliun atau bertambah sekitar Rp72 triliun dari target awal.

"Karena itu, pada level US$ 100 per barel saya melihat ketahanan fiskal masih bisa dijaga dalam jangka pendek, tetapi tidak lagi longgar dan jelas tidak seaman skenario US$ 80-90 per barel," tegasnya.

Tekanan utamanya datang dari subsidi dan kompensasi energi yang melonjak apabila harga jual dalam negeri tetap ditahan.

Namun dia menjelaskan arah bebannya terlihat jelas, yakni pada skenario minyak US$ 100 per barel dan rupiah Rp17.000, nilai keekonomian Pertalite diperkirakan naik ke Rp17.600 per liter dan Pertamax ke Rp17.800 per liter.

Selisih ini sangat jauh dari harga jual saat ini, sehingga bila harga domestik tidak disesuaikan, subsidi dan kompensasi akan membengkak; sebaliknya bila harga disesuaikan, inflasi dan daya beli masyarakat akan tertekan.

Secara historis, menurut Josua, penyesuaian harga bahan bakar bersubsidi cenderung muncul ketika selisih harga minyak terhadap asumsi APBN mencapai sekitar US$ 20 sampai US$ 40 per barel, dan peluang penyesuaian pada 2026 meningkat nyata bila harga Brent melampaui US$ 90 per barel.

(haa/haa) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Harga Minyak Melejit Imbas Perang Iran, Purbaya Ungkap Dampak ke APBN


Most Popular
Features