Iran Ngamuk! Ancam Membumihanguskan Fasilitas Minyak Negara Teluk
Jakarta, CNBC Indonesia - Konflik antara Iran dan Israel kembali memanas setelah serangan udara Tel Aviv menghantam sejumlah fasilitas energi di sekitar ibu kota Teheran. Ketegangan ini memicu ancaman balasan dari Iran terhadap fasilitas minyak negara-negara di kawasan Teluk dan meningkatkan kekhawatiran gangguan besar terhadap ekonomi global.
Menurut laporan The Guardian, serangan udara yang dilakukan militer Israel menghantam sedikitnya lima lokasi energi di sekitar Teheran pada Minggu. Ledakan tersebut memicu bola api besar dan kepulan asap hitam yang menyelimuti langit kota.
Perusahaan distribusi minyak Iran melaporkan empat pekerja tewas akibat serangan terhadap fasilitas penyimpanan bahan bakar. Ledakan juga terdengar hingga kota Karaj yang berada di dekat ibu kota.
Juru bicara Korps Garda Revolusi Islam Iran (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) memperingatkan bahwa Iran siap membalas jika serangan terhadap infrastruktur energi terus berlanjut.
"Jika Anda bisa menoleransi harga minyak lebih dari US$200 per barel (sekitar Rp3,1 juta per barel), lanjutkan permainan ini," ujar juru bicara IRGC, seperti dikutip media pemerintah Iran, Senin (9/3/2026).
Ancaman tersebut memicu kekhawatiran pasar energi global, mengingat Iran menyumbang sekitar 4% produksi minyak dunia, dengan sebagian besar ekspornya dikirim ke China.
Di tengah meningkatnya ketegangan, pemerintah Amerika Serikat berupaya menenangkan pasar energi. Menteri Energi AS, Chris Wright, menegaskan bahwa Washington tidak akan menargetkan infrastruktur energi Iran.
"Serangan terhadap fasilitas minyak Iran dilakukan oleh Israel. Amerika Serikat tidak akan menargetkan infrastruktur energi Iran," kata Wright kepada CNN International.
Ia menilai potensi gangguan terhadap pasokan minyak dan gas global kemungkinan hanya berlangsung sementara. "Gangguan pasokan energi kemungkinan hanya akan berlangsung singkat, paling lama beberapa minggu," ujarnya.
Di sisi lain, dinamika politik di Iran juga berubah cepat. Para ulama yang memiliki kewenangan memilih pemimpin tertinggi Iran mengumumkan bahwa Mojtaba Khamenei terpilih sebagai pemimpin tertinggi baru menggantikan ayahnya, Ali Khamenei.
Dalam pernyataan yang disiarkan media pemerintah, majelis ulama menyebut keputusan tersebut diambil melalui "pemungutan suara yang menentukan" dan menyerukan rakyat Iran untuk bersatu mendukung kepemimpinan baru.
Pengangkatan Mojtaba Khamenei menjadi momen bersejarah karena untuk pertama kalinya sejak Iranian Revolution, posisi pemimpin tertinggi Iran berpindah dari ayah kepada anak.
Namun langkah tersebut berpotensi memicu ketegangan lebih lanjut dengan Donald Trump yang sebelumnya menyatakan hasil tersebut tidak dapat diterima. Trump bahkan memperingatkan bahwa pemimpin tertinggi Iran berikutnya "tidak akan bertahan lama" jika Teheran tidak mendapatkan persetujuannya terlebih dahulu.
(luc/luc) Add
source on Google