Kepulan asap hitam tebal masih terlihat membumbung dari depot minyak Sharan di Teheran pada Minggu (8/3/2026) setelah Israel mengonfirmasi telah menyerang depot dan kilang bahan bakar di Iran sehari sebelumnya. (Tangkapan Layar Video Reutes/WANA)
Kebakaran masih terlihat di area depot dengan sejumlah titik api yang terus menyala di antara fasilitas kilang yang rusak akibat serangan. (Tangkapan Layar Video Reutes/WANA)
Di sekitar lokasi juga terlihat puing-puing serta bangkai truk tangki minyak yang hangus. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyebut serangan berskala besar tersebut sebagai “fase baru yang berbahaya” dalam konflik dan menuduh Israel melakukan kejahatan perang. (Tangkapan Layar Video Reutes/WANA)
Perusahaan distribusi minyak Iran menyatakan empat karyawannya tewas dalam serangan tersebut. Perusahaan itu juga mengumumkan pemberlakuan penjatahan bahan bakar sementara di beberapa wilayah guna memastikan pasokan tetap tersedia secara adil dan berkelanjutan. Sumber dari Israel mengatakan bahan bakar yang tersimpan di fasilitas itu digunakan untuk memproduksi dan mengembangkan senjata, serta untuk mendukung operasional pangkalan militer Iran. (Tangkapan Layar Video Reutes/WANA)
Dalam unggahannya di platform X, Baghaei menilai penargetan depot bahan bakar telah melepaskan zat berbahaya dan beracun ke udara, yang menurutnya dapat meracuni warga sipil, merusak lingkungan, serta membahayakan nyawa dalam skala besar. (Tangkapan Layar Video Reutes/WANA)
Sementara itu, juru bicara militer Israel Letnan Kolonel Nadav Shoshani mengatakan fasilitas tersebut merupakan target militer yang sah. Ia mengeklaim depot itu digunakan untuk mendanai upaya perang Iran, termasuk memproduksi atau menyimpan propelan untuk rudal balistik. Tak lama setelah serangan tersebut, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan pemerintahnya akan melanjutkan operasi militer dan menyerang penguasa Iran “tanpa ampun”. (Tangkapan Layar Video Reutes/WANA)