Internasional

Intelijen AS Ragu Tujuan Perang Tercapai, Iran Bikin Trump "Menderita"

luc, CNBC Indonesia
Senin, 09/03/2026 05:00 WIB
Foto: Fokus/ Trump, Gencatan Senjata/ Aristya Rahadian

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketika perang antara Amerika Serikat dan Iran memasuki fase yang makin intens, laporan internal pemerintah AS justru menimbulkan tanda tanya besar. Apakah perang ini benar-benar mampu menjatuhkan pemerintahan Iran?

Sejumlah kajian intelijen terbaru menunjukkan bahwa tujuan besar pemerintahan Presiden AS Donald Trump untuk mengganti pemerintahan di Teheran kemungkinan sulit tercapai, bahkan jika operasi militer terus dilanjutkan.

Laporan The Washington Post mengungkap bahwa sebuah tinjauan intelijen rahasia National Intelligence Council menyimpulkan perang terhadap Iran kecil kemungkinan mampu menggulingkan struktur kekuasaan yang saat ini berkuasa di negara tersebut. Temuan itu muncul di tengah keinginan pemerintahan Trump untuk mempertahankan serangan militer terhadap Iran.


Laporan tersebut, yang diselesaikan pada pertengahan Februari, memaparkan dua kemungkinan skenario tindakan AS. Dalam kedua skenario itu, hasil akhirnya diperkirakan tetap sama, yakni pemerintahan Iran akan mengikuti prosedur suksesi untuk menggantikan pemimpin tertinggi negara tersebut.

Pejabat intelijen juga menilai bahwa sangat kecil kemungkinan kelompok oposisi Iran mampu mengambil alih kekuasaan.

Pada saat yang sama, para anggota Partai Demokrat di Kongres memperingatkan bahwa kampanye udara terhadap Iran juga mulai menguras persediaan senjata tertentu milik Amerika Serikat. Kekhawatiran tersebut muncul dalam sebuah pengarahan tertutup awal pekan ini antara pejabat pemerintahan Trump dan anggota Kongres.

Meski negosiasi diplomatik masih berlangsung, Amerika Serikat dan Israel tetap melancarkan pemboman terhadap Iran pekan lalu. Operasi militer tersebut juga menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, serta sejumlah tokoh senior lainnya.

Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan ke Israel, instalasi militer Amerika di kawasan Timur Tengah, serta beberapa negara regional yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS.

Sejak serangan dimulai, pemerintahan Trump berulang kali menyatakan bahwa Iran mencoba membuka pembicaraan gencatan senjata. Namun sejumlah laporan lain justru menunjukkan sebaliknya.

Selama bertahun-tahun, kelompok garis keras anti-Iran di AS mendorong terjadinya perang untuk mengganti rezim di Teheran. Mereka menilai program nuklir Iran sudah mendekati kemampuan untuk memproduksi senjata nuklir.

Sejak April tahun lalu, Iran dan AS sebenarnya terlibat dalam negosiasi mengenai program nuklir tersebut. Iran berkali-kali menegaskan bahwa program nuklirnya semata-mata ditujukan untuk kepentingan sipil.

Ketegangan meningkat tajam setelah Israel dan Amerika Serikat membombardir fasilitas nuklir Iran pada Juni tahun lalu. Walaupun perundingan tetap berlanjut, kedua negara kembali meluncurkan serangan besar terhadap Iran pada pekan lalu.

Selama sepekan terakhir, Amerika Serikat dan Israel terus menggempur berbagai target di Iran, termasuk gedung pemerintahan dan instalasi militer. Namun serangan juga dilaporkan mengenai bangunan sipil, rumah sakit, hingga sekolah.

Pada hari pertama kampanye pengeboman, sebanyak 168 siswi dilaporkan tewas akibat serangan langsung ke sekolah mereka. Kantor berita The Associated Press kemudian melaporkan bahwa serangan mematikan tersebut kemungkinan berasal dari militer Amerika Serikat.

Presiden Donald Trump sendiri berbicara mengenai operasi militer tersebut saat menghadiri KTT Shield of the Americas di Florida pada Sabtu lalu, hanya beberapa jam setelah Presiden Iran menyampaikan permintaan maaf kepada negara-negara tetangga atas serangan misil yang terjadi.

"Kami melakukan dengan sangat baik di Iran, Anda bisa melihat hasilnya," kata Trump, dilansir The Guardian.

"Dan itu luar biasa. Kami telah menghancurkan 42 kapal angkatan laut mereka, beberapa di antaranya sangat besar, dalam tiga hari. Itu adalah akhir dari angkatan laut mereka. Kami menghancurkan angkatan udara mereka. Kami memutus komunikasi mereka dan semua telekomunikasi telah hilang."

Trump juga melontarkan kritik keras terhadap pemerintah Iran. "Mereka adalah orang-orang yang buruk, benar-benar orang yang buruk," ujarnya.

"Delapan bulan lalu mereka akan memiliki senjata nuklir. Dan mereka gila, dan mereka akan menggunakannya, jadi kami telah melakukan kebaikan untuk dunia."

 


(luc/luc) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Rudal Iran Hantam Pangkalan Militer AS Terbesar di Qatar