Elit Bisnis Arab Kritik Serangan Trump, Investasi ke AS Terancam
Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan yang meningkat di kawasan Teluk berpotensi mengguncang hubungan ekonomi yang selama ini semakin erat antara negara-negara kaya energi di Timur Tengah dengan Amerika Serikat. Triliunan dolar investasi yang sebelumnya dijanjikan negara-negara Teluk ke AS kini berada dalam posisi terancam di tengah konflik yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat.
Dilansir dari The Wall Street Journal, pada tahun lalu, negara-negara terkaya di Teluk Persia seperti Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Qatar berkomitmen mengucurkan investasi dalam jumlah sangat besar ke Amerika Serikat. Total komitmen investasi dari tiga negara tersebut mencapai lebih dari US$3 triliun. Langkah ini dilakukan untuk mempererat hubungan dengan Presiden AS saat itu, Donald Trump, sekaligus memperkuat kerja sama ekonomi antara kedua kawasan.
Namun situasi berubah drastis setelah konflik pecah. Iran membalas serangan Amerika Serikat dengan meluncurkan rudal dan drone ke negara-negara Arab di kawasan Teluk. Eskalasi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa ketegangan berkepanjangan dapat mengganggu stabilitas ekonomi dan hubungan investasi antara kedua pihak.
Sejumlah kalangan elite bisnis di kawasan Teluk mulai menyuarakan kritik secara terbuka. Salah satunya datang dari pengusaha Dubai, Khalaf Al Habtoor, yang mempertanyakan keputusan Washington melakukan serangan terhadap Iran.
Dalam sebuah unggahan di platform X pada Kamis, ia menulis, "Siapa yang memberi Anda wewenang untuk menyeret kawasan kami ke dalam perang?" Ia juga menilai langkah tersebut menempatkan negara-negara Teluk "di jantung bahaya yang tidak mereka pilih."
Khalaf Al Habtoor merupakan miliarder yang memimpin konglomerasi Al Habtoor Group. Ia mendirikan perusahaan tersebut pada 1970 dari sebuah firma teknik kecil yang kemudian berkembang menjadi konglomerasi besar dengan bisnis yang mencakup hotel mewah, dealer mobil hingga perusahaan penerbitan. Pernyataan Al Habtoor tergolong jarang terjadi karena para elite Emirat biasanya berhati-hati dalam memberikan komentar publik terkait geopolitik. Juru bicara Al Habtoor tidak memberikan tanggapan atas permintaan komentar terkait pernyataan tersebut.
Sejauh ini, pemerintah UEA, Arab Saudi dan Qatar lebih banyak mengarahkan kritik kepada Iran. Mereka memprotes serangan terhadap bandara dan pelabuhan di wilayah mereka yang dinilai melanggar kedaulatan serta mengancam keselamatan warga sipil. Namun sebelum Amerika Serikat melancarkan serangan udara ke Iran, pemerintah negara-negara Teluk sebenarnya telah menunjukkan kekhawatiran bahwa langkah tersebut dapat memicu konflik regional yang lebih luas dan menyeret mereka ke dalamnya.
Gedung Putih membela langkah tersebut. Seorang juru bicara mengatakan, "Terorisme Iran yang disponsori negara tidak hanya merugikan Amerika dan warga Amerika, tetapi juga sekutu kami, termasuk negara-negara Teluk lainnya." Ia menambahkan bahwa operasi militer tersebut "justru bertujuan melindungi stabilitas kawasan dan kelancaran perdagangan di wilayah itu."
Hubungan ekonomi antara AS dan negara-negara Teluk sebelumnya berkembang pesat sejak Trump kembali ke Gedung Putih pada 2025. Kunjungan luar negeri besar pertamanya dilakukan ke tiga negara tersebut pada musim semi tahun itu. Dalam kunjungan tersebut, berbagai komitmen investasi diumumkan bersamaan dengan penyambutan meriah yang diwarnai karpet merah hingga jamuan makan mewah.
Sejak saat itu, berbagai kerja sama finansial antara kedua pihak terus berkembang. Di antaranya rencana pembangunan taman hiburan Disneyland di Abu Dhabi serta pemberian sebuah pesawat jumbo dari Qatar. Sejumlah kesepakatan investasi juga dibahas dalam forum investasi AS-Arab Saudi yang digelar di Washington DC pada November, di mana Trump memuji kemitraan strategis dengan Riyadh.
Dalam forum tersebut, Trump bahkan tampil satu panggung bersama Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman. Sejumlah perusahaan besar seperti Blackstone dan Cisco Systems juga menyatakan komitmen untuk menanamkan investasi dalam pembangunan pusat data di kawasan Teluk.
Bisnis keluarga Trump dan sejumlah sekutunya juga aktif melakukan berbagai kesepakatan di kawasan tersebut, termasuk penggalangan dana untuk proyek kripto dan private equity. Proyek-proyek properti bermerek Trump seperti menara hunian dan lapangan golf mewah juga direncanakan hadir di berbagai kota seperti Doha di Qatar, Jeddah dan Riyadh di Arab Saudi, serta Dubai di UEA.
Selain itu, dana kekayaan negara atau sovereign wealth fund dari negara-negara Teluk juga terlibat dalam berbagai akuisisi perusahaan besar di dunia. Salah satunya adalah pembelian perusahaan gim Electronic Arts senilai US$55 miliar yang didukung Arab Saudi. Sementara dana investasi dari Abu Dhabi juga mengakuisisi perusahaan periklanan Clear Channel Outdoor Holdings. Dana dari ketiga negara tersebut juga mendukung upaya akuisisi Warner Bros. Discovery oleh Paramount Skydance pada akhir tahun lalu.
Meski demikian, masa depan aliran investasi tersebut kini sangat bergantung pada perkembangan konflik. Rachel Ziemba, peneliti senior tambahan di lembaga think tank berbasis Washington, Center for a New American Security, mengatakan perang ini memunculkan ketidakpastian baru.
"Konflik ini menimbulkan pertanyaan baru tentang kemampuan dan minat negara-negara Teluk untuk terus berinvestasi di Amerika Serikat," ujarnya.
Jika konflik berlangsung lama, Ziemba menilai kondisi tersebut dapat mengguncang keuangan negara-negara Teluk. Pendapatan dari minyak dan gas berpotensi menurun, sementara belanja pertahanan kemungkinan meningkat, sehingga dana yang tersedia untuk investasi luar negeri bisa berkurang.
Sejumlah ekonom juga mulai menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi kawasan. Lembaga riset Capital Economics dalam catatan kepada klien menyebutkan mereka memangkas perkiraan pertumbuhan produk domestik bruto kawasan Teluk hingga 1 poin persentase, dengan asumsi konflik hanya berlangsung beberapa pekan. Ketidakpastian geopolitik juga dapat membuat perusahaan menunda keputusan investasi besar.
Meski begitu, sebagian investor masih optimistis ketegangan ini akan mereda. Presiden dan Chief Operating Officer Blackstone, Jon Gray, dalam wawancara dengan CNBC mengatakan, "Perasaan saya, pada akhirnya situasi ini akan terselesaikan. Amerika Serikat dan sekutunya akan keluar sebagai pemenang," katanya.
(fsd/fsd) Add
source on Google