RI Harus Rela Kucurkan Puluhan Triliun Demi Cadangan Penyangga Energi

Verda Nano Setiawan, CNBC Indonesia
Jumat, 06/03/2026 17:50 WIB
Foto: Kilang Pertamina Internasional RU V Balikpapan. (Dok. Pertamina)

Jakarta, CNBC Indonesia - Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro mengungkapkan bahwa Indonesia memerlukan anggaran puluhan triliun rupiah. Terutama jika ingin memiliki cadangan penyangga energi atau Strategic Petroleum Reserve (SPR) seperti yang dimiliki banyak negara maju.

Komaidi membeberkan negara-negara di dunia secara umum memiliki cadangan energi strategis rata-rata tiga hingga enam bulan sebagai langkah antisipasi ketika terjadi krisis energi atau gangguan distribusi minyak dunia.

"Kalau di negara negara lebih maju lagi dia punya stockpile yang lebih besar lagi tapi ini kan berkaitan dengan banyak hal ya jadi kapasitas penyimpanan harus besar kemudian alokasi fiskal untuk penyimpan cadangan tersebut juga harus besar," ujar Komaidi kepada CNBC Indonesia, dikutip Jumat (6/3/2026).


Menurut Komaidi untuk membangun cadangan energi tersebut, dibutuhkan anggaran yang tidak kecil. Setidaknya untuk menyediakan stok BBM selama satu hari saja, diperlukan alokasi anggaran sekitar Rp2,5 triliun hingga Rp3 triliun.

Artinya, apabila Indonesia ingin memiliki cadangan energi selama 30 hari, maka kebutuhan dananya bisa mencapai sekitar Rp60 triliun hingga Rp90 triliun.

"Sekarang kita kan punya 20-25 hari itu pun stok yang bukan dimiliki negara tapi stok operasional badan usaha yang inventori belum terjual dan ini bagi badan usaha kan sebelumnya berat kalau harus membiarkan uangnya ngendap di situ dalam jangka waktu yang cukup panjang," kata Komaidi.

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjelaskan alasan stok BBM Indonesia hanya mencapai 20 hari. Pernyataan itu sempat menimbulkan kekhawatiran di masyarakat, usai Selat Hormuz, Iran ditutup.

Kekhawatiran mucul karena penutupan jalur utama perdagangan perdagangan minyak global. Bahkan Pertamina juga mengungkapkan bahwa 19% impor minyak Indonesia berasal dari Timur Tengah yang melewati Selat Hormuz.

Namun menurut Bahlil stok 20 hari itu memang kapasitas tampung maksimal untuk BBM di dalam negeri. "Jangan salah persepsi, memang sejak lama kemampuan storage kita di RI ini tidak lebih dari 21 - 25 hari. Jadi standar nasional minimal itu di 20 - 21 hari, maksimal 25 hari," katanya, di kompleks Istana Kepresidenan, Rabu (4/3/2026).

Bahlil juga menjelaskan dari laporan Pertamina, stok BBM Indonesia saat ini sudah mencapai 22-23 hari.

"Kenapa kita gak melakukan persediaan lebih dari 25 hari, kalau diadakan mau disimpan di mana? storagenya gak cukup. Jadi mohon diluruskan, bukan kita gak bisa menyiapkan lebih dari 25 hari, karena memang daya tampungnya gak ada," kata Bahlil.

Lebih lanjut, Bahlil menjelaskan Presiden Prabowo Subianto juga sudah memerintahkan untuk membangun kilang penampungan BBM, supaya ketahanan energi Indonesia bisa lebih lama. Targetnya kapasitas penampungan yang diharapkan bisa mencapai stok BBM selama 3 bulan.


(pgr/pgr) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Prabowo Perintahkan Bangun Storage Baru Perkuat Ketahanan Energi