MARKET DATA

Rentan! RI Sama Sekali Tak Punya Cadangan Penyangga Energi

Verda Nano Setiawan,  CNBC Indonesia
06 March 2026 11:40
PT Pertamina (Persero) resmi mengintegrasikan bisnis hilir ke dalam satu entitas terpadu. Pertamina secara resmi menyatukan tiga Sub Holding yang bergerak di sektor hilir yaitu PT Pertamina Patra Niaga (PPN), PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), dan segmen bisnis PT Pertamina International Shipping (PIS), bergabung (merger) menjadi Sub Holding Downstream, di bawah entitas PT Pertamina Patra Niaga, Rabu (04/02/2026) malam. (Dok. PT Pertamina (Persero))
Foto: PT Pertamina (Persero) resmi mengintegrasikan bisnis hilir ke dalam satu entitas terpadu. Pertamina secara resmi menyatukan tiga Sub Holding yang bergerak di sektor hilir yaitu PT Pertamina Patra Niaga (PPN), PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), dan segmen bisnis PT Pertamina International Shipping (PIS), bergabung (merger) menjadi Sub Holding Downstream, di bawah entitas PT Pertamina Patra Niaga, Rabu (04/02/2026) malam. (Dok. PT Pertamina (Persero))

Jakarta, CNBC Indonesia - Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro menilai ketahanan energi Indonesia masih tergolong rentan. Pasalnya hingga saat ini negara belum memiliki cadangan penyangga energi atau Strategic Petroleum Reserve (SPR) yang memadai seperti yang dimiliki negara maju.

Komaidi menyebut secara umum negara-negara di dunia memiliki cadangan penyangga energi rata-rata tiga hingga enam bulan. Bahkan, sejumlah negara maju memiliki cadangan energi yang lebih besar.

"Secara rata-rata antara 3 sampai 6 bulan cadangan penyangga energi atau SPR yang biasa disebut sebagai strategic petroleum reserve kalau di negara negara lebih maju lagi dia punya stockpile yang lebih besar lagi," kata Komaidi kepada CNBC Indonesia, dikutip Jumat (6/3/2026).

Menurut dia, setiap negara memiliki kondisi yang berbeda, sehingga besaran cadangan energi yang dianggap ideal juga tidak selalu sama. Selain mempertimbangkan potensi krisis energi, pemerintah juga harus melihat kemampuan anggaran.

Sebagai contoh, ia mengungkapkan biaya untuk menyimpan cadangan BBM tergolong sangat besar. Untuk stok BBM selama satu hari saja, diperlukan alokasi anggaran sekitar Rp2,5 triliun hingga Rp3 triliun.

Artinya, jika Indonesia ingin memiliki cadangan energi selama 30 hari, maka kebutuhan dananya bisa mencapai sekitar Rp60 triliun hingga Rp90 triliun.

Ia lantas membeberkan bahwa Indonesia saat ini hanya memiliki cadangan BBM sekitar 20 hingga 25 hari. Namun cadangan tersebut sebenarnya bukan milik negara, melainkan stok operasional badan usaha, yakni persediaan BBM yang masih menjadi inventori dan belum terjual.

"Dan ini bagi badan usaha kan sebelumnya berat kalau harus membiarkan uangnya ngendap di situ dalam jangka waktu yang cukup panjang. Biasanya mereka ya cepat biasanya ada barang masuk yang lama keluar," ujarnya.

(pgr/pgr) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]


Most Popular
Features