Panas Konflik di mana-mana Ubah Peta Perdagangan Dunia, RI Harus Apa?

Martyasari Rizky, CNBC Indonesia
Kamis, 05/03/2026 18:40 WIB
Foto: Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso saat ditemui di kantornya, Jakarta, Senin (2/3/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menyebut eskalasi konflik geopolitik global berpotensi mengubah peta perdagangan dunia. Pemerintah pun melihat adanya peluang untuk mengisi kekosongan pasar di sejumlah negara yang pasokannya terganggu akibat konflik tersebut.

Budi mengatakan, ketegangan geopolitik yang berujung pada gangguan jalur perdagangan internasional biasanya berdampak langsung pada rantai pasok global. Ketika suplai dari suatu negara terganggu, maka akan muncul celah pasar yang bisa dimanfaatkan negara lain, termasuk Indonesia yang berencana memanfaatkan kesempatan itu.

"Kami melihat kalau dari sisi perdagangan ya, kalau krisis geopolitik itu biasanya nanti akan merubah peta perdagangan. Nah ketika global supply chain terganggu, ini secara global kan pasti ada yang ekspornya terhambat termasuk juga impronya terhambat," kata Budi saat ditemui di Kantor Kemendag, Jakarta, Kamis (5/3/2026).


"Jadi sebenarnya, memang justru ada celah yang kosong ketika sebuah pasar di negara lain tidak disuplai oleh negara lain pemasoknya selama ini. Nah kita ingin memanfaatkan wilayah-wilayah yang kosong itu," sambungnya.

Namun demikian, pemerintah tetap berhati-hati dalam memanfaatkan peluang tersebut. Menurutnya, perlu pemetaan terlebih dahulu untuk memastikan negara mana saja yang benar-benar mengalami gangguan pasokan akibat konflik.

"Tapi kita juga harus jeli ya mempertimbangkan. Kita survei benar apakah daerah itu memang banyak terganggu," kata dia.

Salah satu langkah yang dilakukan pemerintah adalah mengarahkan program business matching, khususnya bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), ke pasar-pasar yang dinilai memiliki peluang akibat terganggunya rantai pasok global.

Menurut Budi, UMKM dinilai lebih fleksibel dalam menembus pasar baru karena sebagian besar merupakan eksportir baru dengan skala transaksi yang relatif lebih kecil.

"Nah salah satu contohnya yang kita lakukan adalah terutama untuk UMKM kita. Kenapa? UMKM itu sebenarnya lebih mudah. UMKM itu kan sebenarnya dia ekspor baru, sehingga jangka pendek. Mana pasar-pasar yang bisa dijalani," ujarnya.

Ia mengatakan, program business matching untuk UMKM saat ini mulai diarahkan ke sejumlah kawasan seperti Asia Tenggara dan Afrika.

"Nah sekarang program-program yang business matching dengan UMKM itu akhirnya diarahkan ke negara-negara tersebut. Nah sekarang sudah mulai, Januari kemarin juga transaksinya sudah US$4 juta, sekarang yang Februari tadi kami dengan Bu Dirjen PEN sudah memetakan mana negara-negara seperti Asia Tenggara, kemudian Afrika kita masuki untuk mengisi kekosongan tadi," kata Budi.

Di sisi lain, pemerintah juga mengantisipasi potensi gangguan pada perdagangan komoditas yang bergantung pada bahan baku impor. Menurut Budi, konflik geopolitik bisa mempengaruhi kelancaran pasokan bahan baku dari luar negeri.

"Ya memang kita antisipasi ya. Tapi sampai sekarang memang rencananya besok kita ketemu para eksportir ya. Kita akan membahas problem apa, saya ingin tahu secara teknis kira-kira masalahnya dimana para eksportir itu. Para eksportir kan tadi juga bilang, dia juga impor bahan baku," ujarnya.

Pemerintah juga belum dapat memastikan dampak konflik terhadap kinerja ekspor Indonesia secara keseluruhan. Hal tersebut akan dibahas lebih lanjut dalam pertemuan dengan para pelaku usaha.

"Besok ya, besok saya akan ketemu ya. Tapi kita juga belum bisa menghitung. Kemarin kita kaji dengan BK Perdag tapi kami juga belum bisa memastikan sebelum kami memang dapat masukkan juga dari para pelaku usaha. Karena kan ini, ya mudah-mudahan harapan kita akan perang cepat selesai," pungkas dia.


(dce) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Kondisi Selat Hormuz di Tengah Eskalasi Geopolitik