MARKET DATA
Internasional

Diam-Diam Rusia Bisa Untung Besar dari Perang Iran, Begini Caranya

Tommy Patrio Sorongan,  CNBC Indonesia
05 March 2026 20:00
An oil tankers train passes near the Guwahati Refinery operated by Indian Oil Corporation, in Guwahati on March 30, 2023. - On March 29 Russian oil giant Rosneft announced a deal with Indian Oil to substantially increase oil supplies to the firm. India has emerged as a major buyer of Russian oil since the Ukraine war. (Photo by Biju BORO / AFP)
Foto: AFP/BIJU BORO

Jakarta, CNBC Indonesia - Krisis energi berkepanjangan yang dipicu oleh meluasnya peperangan di Timur Tengah berpotensi menjadi penyelamat bagi mesin perang Rusia. Padahal, kondisi ekonomi Kremlin sebelumnya mulai menunjukkan tanda-tanda tekanan akibat sanksi internasional yang bertubi-tubi.

Melemahnya rezim di Iran atau kemungkinan keruntuhannya memang akan merugikan Kremlin karena kehilangan salah satu mitra regional terdekatnya. Namun, kerugian tersebut diprediksi akan tertutup oleh keuntungan ekonomi yang masif jika gangguan pasokan global mendorong para pembeli beralih ke energi Rusia, yang dibarengi dengan potensi melambatnya pasokan senjata Barat ke Ukraina.

"Ketika seperlima dari pasokan minyak global dan sekitar seperempat perdagangan laut secara efektif terkunci, itu adalah keuntungan bagi Rusia," kata Sergey Vakulenko, peneliti senior di Carnegie Russia Eurasia Centre sekaligus pakar terkemuka di sektor energi Rusia, dikutip The Guardian, Kamis (5/3/2026).

Harga minyak mentah Brent melonjak lebih dari 7% pada hari Selasa hingga melampaui US$ 80 per barel, menambah lonjakan 7,2% pada hari Senin. Kenaikan tajam ini terjadi setelah terhentinya pengiriman di Selat Hormuz yang diikuti oleh serangan rudal dan drone Iran terhadap infrastruktur regional.

Lonjakan ini mendorong harga ke level tertinggi sejak Juli 2024 dan para analis memprediksi tren kenaikan akan terus berlanjut. India dan China, sebagai pembeli terbesar minyak mentah Timur Tengah, akan menjadi pihak yang paling terpukul oleh gangguan berkepanjangan ini dan kemungkinan besar terpaksa meningkatkan pembelian dari Moskow.

Meskipun Beijing telah lama mendiversifikasi impor minyaknya dari Timur Tengah, Afrika, dan Rusia, gangguan berkelanjutan pada pasokan Teluk-terutama dari Iran-dapat mempercepat pergeseran yang lebih dalam ke arah minyak Rusia. Sergey Vakulenko menilai situasi ini akan mengubah peta pasar energi Asia secara drastis.

"Beberapa minyak Rusia yang selama ini tertahan di kapal tanker pasti akan menemukan pembeli sekarang," ujar Vakulenko menambahkan.

India saat ini menghadapi posisi dilematis yang lebih rumit dalam menyeimbangkan kebutuhan energinya. Berdasarkan kesepakatan dagang dengan Donald Trump bulan lalu, New Delhi sempat mulai mengganti beberapa kargo Rusia dengan minyak dari Teluk, yang memangkas impor dari Moskow ke level terendah sejak 2022.

Namun, jika pasokan Timur Tengah goyah, para pejabat India kemungkinan besar akan meminta fleksibilitas lebih besar dari Washington untuk membuka kembali pintu bagi peningkatan pembelian minyak Rusia. Pergeseran tersebut secara kolektif akan memperkuat posisi tawar Rusia dalam negosiasi harga yang lebih tinggi di pasar internasional.

Selama berbulan-bulan, Moskow terpaksa menawarkan diskon harga minyak yang besar karena melimpahnya pasokan global dan risiko sanksi yang membuat para pedagang waspada. Kapasitas penyimpanan pun semakin menipis dan muncul tanda-tanda bahwa Rusia mungkin terpaksa memangkas produksi karena kargo sulit menemukan pembeli.

Dampak jangka panjang dari krisis ini akan sangat bergantung pada durasi konflik yang terjadi. Negara-negara pengimpor biasanya memiliki cadangan minyak untuk tiga bulan, dan infrastruktur energi di Teluk yang rusak akan menentukan seberapa parah guncangan pasokan yang akan terjadi ke depannya.

"Jika ini hanya berlangsung dua minggu, tidak akan banyak berpengaruh. Jika lebih lama, maka semuanya akan mulai menjadi menarik," ungkap Vakulenko.

Selain minyak, Rusia juga berpotensi meraup keuntungan dari guncangan harga gas dunia. Terhentinya ekspor LNG Qatar akan meninggalkan celah besar dalam pasokan global yang mungkin diisi oleh produsen Rusia, di mana saham energi seperti Gazprom dan Novatek sudah mulai melonjak di bursa Moskow.

Momentum ini dianggap sebagai kabar buruk bagi Ukraina karena pendapatan minyak dan gas Rusia sempat jatuh ke level terendah dalam lima tahun pada 2025. Penurunan pendapatan tersebut sebelumnya memberikan harapan bagi Kyiv bahwa Moskow akan kesulitan mempertahankan intensitas kampanye militernya hingga tahun 2026.

"Bagi anggaran kami, serangan terhadap Iran adalah nilai tambah yang besar. Jika Trump menyerang ladang minyak Iran, maka, meskipun kedengarannya malang, kita akan menjadi salah satu dari sedikit negara produsen minyak yang tersisa," kata pembawa acara TV Kremlin yang berpengaruh, Vladimir Solovyov, dalam siarannya

(tps/luc) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Hasil Nego Tarif AS-RI Untungkan 5 Juta Pekerja Industri Manufaktur


Most Popular
Features