MARKET DATA
Internasional

"The Capitol" Gagal Setop Perang Trump, Serangan AS ke Iran Makin Lama

sef,  CNBC Indonesia
05 March 2026 09:40
Presiden AS Donald Trump menyampaikan pidato kenegaraan di Ruang Sidang DPR di Gedung Capitol AS di Washington, D.C., AS, 24 Februari 2026. (REUTERS/Jessica Koscielniak/Pool)
Foto: Presiden AS Donald Trump menyampaikan pidato kenegaraan di Ruang Sidang DPR di Gedung Capitol AS di Washington, D.C., AS, 24 Februari 2026. (REUTERS/Jessica Koscielniak)

Jakarta, CNBC Indonesia - Senat Amerika Serikat (AS) menolak resolusi yang bertujuan untuk membatasi wewenang Presiden Donald Trump untuk melanjutkan serangan militer terhadap Iran, Rabu waktu setempat. Sebelumnya, langkah "mengebiri" perang Trump itu diajukan

Anggota Partai Demokrat Tim Kaine dan Republik Rand Paul, dan akan mengharuskan penarikan pasukan AS dari Iran kecuali Kongres mengizinkan perang dilakukan.

Mengutip AFP Kamis (5/3/2025), kegagalan terjadi karena suara dominan partai Trump, Republik, yang memegang suara mayoritas 53-47 di majelis tinggi Kongres. Mereka sebagian besar mendukung keputusan presiden untuk menyerang Iran bersama Israel.

"Izinkan saya mengatakannya seperti ini, tidak ada bukti yang disajikan di ruangan itu... yang menunjukkan bahwa AS menghadapi ancaman langsung dari Iran," kata Kaine setelah pengarahan rahasia dari pejabat pemerintah Trump.

Pemungutan suara itu terjadi lima hari setelah serangan AS-Israel ke Iran 28 Februari yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei dan beberapa tokoh senior di Teheran. Dilaporkan pula bahwa pasukan AS pun tewas dalam serangan balasan Iran terhadap pangkalan Amerika di Kuwait.

Sebelumnya, Partai Demokrat berpendapat Trump secara tidak konstitusional mengabaikan Kongres ketika ia memerintahkan kampanye udara. Mereka mengatakan pemerintahan Trump telah memberikan pembenaran yang berubah-ubah untuk perang tersebut.

Sementara itu, Partai Republik sebagian besar mendukung Trump. Meskipun beberapa telah mengisyaratkan bahwa dukungan dapat berkurang jika perang meluas atau berlarut-larut.

"Bom pinggir jalan yang berasal dari Iran telah melukai dan membunuh ratusan, jika bukan ribuan, warga Amerika," tulis salah satu pendukung setia Trump di Senat dan pendukung lama konfrontasi dengan Iran, di X, Lindsey Graham,.

"Mereka sungguh-sungguh ketika mereka mengatakan 'kematian bagi Amerika'," ujarnya lagi.

"Saya senang kita tidak membiarkannya berlanjut lebih jauh. Saya senang kita tidak membiarkan mereka membangun lebih banyak rudal."

Pemerintah di seluruh dunia telah berupaya keras untuk mengevakuasi warga negara yang terperangkap oleh perang di Timur Tengah. Kota-kota seperti Dubai, Uni Emirat Arab (UEA) dan Riyadh, Arab Saudi, yang sejak lama dianggap terisolasi dari kekacauan di wilayah tersebut, telah terseret ke dalam krisis seiring dengan meluasnya konflik di seluruh wilayah.

Pendanaan Kongres

Di sisi lain, debat di Kongres mengenai wewenang Trump untuk melancarkan perang mencerminkan keresahan yang lebih luas di Capitol Hill tentang cakupan dan durasi kampanye militer. Para pejabat pemerintah mengatakan kepada anggota parlemen dalam pengarahan rahasia minggu ini , ahwa operasi di Iran dapat berlangsung selama beberapa minggu dan mungkin memerlukan pendanaan tambahan dari Kongres.

Anggota parlemen dari kedua partai mengatakan Pentagon dapat segera meminta dana darurat untuk mengisi kembali persediaan senjata dan mempertahankan operasi tersebut.

Perlu diketahui, resolusi kekuasaan perang di AS mengacu pada Undang-Undang Kekuasaan Perang tahun 1973, yang disahkan setelah Perang Vietnam, yang memungkinkan Kongres untuk memaksa pemungutan suara tentang keterlibatan militer dan membatasi konflik yang tidak sah hingga 60 hari.

(sef/sef) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Video: Senat AS Gagal Loloskan RUU Anggaran Untuk Yang Kelima Kalinya


Most Popular
Features