Pangkas Produksi, Cara RI Dongkrak Harga Nikel Dunia
Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Indonesia berupaya untuk mendongkrak harga nikel di pasar global dengan mengurangi target produksi bijih nikel tahun ini.
Pemerintah akan memangkas produksi bijih nikel pada tahun ini menjadi sekitar 260 juta ton. Angka ini turun sekitar 31% dibandingkan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2025 yang sebesar 379 juta ton.
Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno mengatakan, kebijakan ini tak lain untuk mengatasi kelebihan pasokan atau oversupply di pasar global yang dinilai menekan harga jual nikel selama ini.
Tri menjelaskan bahwa Indonesia menguasai 65% produksi nikel dunia. Menurutnya, kondisi pasar sebelumnya sangat ironis karena Indonesia produsen dominan namun tidak memiliki kendali atas harga akibat suplai yang membanjir hingga terjadi surplus sekitar 250 ribu ton logam nikel (Ni).
"Nah oleh karena itu, kita coba untuk mengontrol. Ini kita yang punya barang tapi kita nggak bisa ngapa-ngapain gimana? Oh ternyata oversupply kemarin sekitar 250 ribu ton Ni. Jadi kita berusaha untuk ke sana," jelas Tri saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, dikutip Rabu (4/3/2026).
Sejauh ini, pengendalian produksi dinilai mulai menunjukkan tren positif terhadap pergerakan harga nikel dunia. Tri mencatat bahwa harga nikel yang sebelumnya stagnan kini mulai merangkak naik setelah pemerintah memberikan sinyal untuk mengerem laju eksploitasi.
"Ini harga udah berapa tahun harganya US$ 14-15 (ribu). Kemarin diumumkan Pak Bahlil kan (harga) naik. Nikel sudah naik sebetulnya kan untuk nikel, untuk komoditas nikel dari US$ 14.800-an, sekarang kan US$ 17 (ribu) something lah. Kemarin sempat juga nyentuh US$ 18 (ribu) sekian," tambahnya.
Selain itu, kebijakan tersebut juga didasari oleh pertimbangan keberlanjutan cadangan nikel nasional yang tersisa sekitar 5 miliar ton. Pemerintah tidak ingin Indonesia terus-menerus menguras sumber daya alam saat harga rendah, dan justru kehabisan stok ketika harga melambung tinggi di masa depan, berbeda dengan strategi negara lain seperti China yang menyimpan cadangannya.
"China itu dia nggak nambang nikelnya. Nah terus sementara nanti kita nambang terus-terusan, terus habis itu pada saat harga tinggi, udah nggak ada kita terus gimana? Sumber daya alam apa yang kita kira-kira bisa mensubstitusi untuk penerimaan kita," pungkasnya.
(wia) Add
source on Google