MARKET DATA
Internasional

Selat Hormuz Membara, Trump Jualan Asuransi untuk Kapal yang Melintas

luc,  CNBC Indonesia
04 March 2026 13:30
Sebuah peta yang menunjukkan Selat Hormuz dan Iran terlihat di belakang miniatur cetakan 3D Presiden AS Donald Trump dalam ilustrasi ini yang diambil pada tanggal 22 Juni 2025. (REUTERS/Dado Ruvic/Illustration)
Foto: Sebuah peta yang menunjukkan Selat Hormuz dan Iran terlihat di belakang miniatur cetakan 3D Presiden AS Donald Trump dalam ilustrasi ini yang diambil pada tanggal 22 Juni 2025. (REUTERS/Dado Ruvic)

Jakarta, CNBC Indonesia - Lonjakan harga minyak dunia akibat perang dengan Iran mendorong Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengambil langkah darurat. Pemerintah AS akan menyediakan asuransi risiko politik bagi kapal-kapal yang melintas di Teluk setelah Iran dinilai hampir berhasil menutup Selat Hormuz.

Pengumuman itu disampaikan Trump melalui media sosial pada Selasa (3/2/2026) waktu setempat, di tengah gejolak pasar energi yang semakin tajam sejak pecahnya perang pada akhir pekan lalu.

"Berlaku SEGERA, saya telah memerintahkan United States Development Finance Corporation (DFC) untuk menyediakan, dengan harga yang sangat wajar, asuransi risiko politik dan jaminan untuk Keamanan Finansial SELURUH Perdagangan Maritim, terutama Energi, yang melintasi Teluk," tulis Trump.

DFC merupakan lembaga pembiayaan pembangunan milik pemerintah AS yang bertugas untuk memajukan kebijakan luar negeri AS dan memperkuat keamanan nasional dengan memobilisasi modal swasta di berbagai belahan dunia.

Trump menambahkan bahwa skema asuransi risiko dengan harga diskon tersebut akan tersedia untuk semua jalur pelayaran. Ia juga membuka kemungkinan pengerahan militer untuk menjamin keamanan kapal-kapal komersial.

"Jika diperlukan, Angkatan Laut Amerika Serikat akan mulai mengawal kapal-kapal tanker melalui Selat Hormuz, secepat mungkin," tulisnya lagi.

"Apapun yang terjadi, Amerika Serikat akan memastikan ARUS BEBAS ENERGI ke SELURUH DUNIA."

Adapun Selat Hormuz merupakan arteri perdagangan global yang menghubungkan kawasan Teluk dengan Samudra Hindia. Sekitar 20% pasokan minyak dunia mengalir melalui jalur sempit tersebut. Penutupan atau gangguan di kawasan itu langsung memicu kepanikan pasar.

Harga minyak telah melonjak lebih dari 15% sejak AS dan Israel melancarkan serangan ke Teheran yang memicu perang dengan Iran. Kenaikan diperkirakan bisa lebih tinggi lagi seiring berkurangnya pasokan akibat penutupan selat oleh Iran serta serangan terhadap instalasi energi di kawasan Teluk.

Sejumlah perusahaan asuransi dilaporkan mulai mengurangi cakupan perlindungan mereka menyusul meningkatnya risiko akibat serangan Iran terhadap kapal dan fasilitas energi.

Meski AS relatif mandiri dalam produksi minyak, lonjakan harga global tetap berdampak langsung pada ekonomi domestik. Kenaikan harga energi berpotensi memicu inflasi dan membebani konsumen.

 

(luc/luc) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Iran Balas Dendam, Kapal Tank Minyak Sekutu AS Disita di Selat Hormuz


Most Popular
Features