Prabowo Bertemu SBY, Jokowi Hingga JK Nyaris 4 Jam, Bahas Perang Iran

Emir Yanwardhana, CNBC Indonesia
Rabu, 04/03/2026 00:30 WIB
Foto: Presiden Prabowo Subianto menggelar silaturahmi dan diskusi dengan mantan presiden, eks wakil presiden, ketua umum partai politik hingga mantan menteri luar negeri di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (4/3/2026) malam. (Muchlis Jr/Sekretariat Presiden)

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Prabowo Subianto menggelar silaturahmi dan diskusi dengan mantan presiden, eks wakil presiden, ketua umum partai politik hingga mantan menteri luar negeri di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (4/3/2026) malam. Berdasarkan pantauan CNBC Indonesia, pertemuan itu digelar sejak pukul 19.30 WIB dan selesai sekitar pukul 23.15 WIB.



Turut hadir dalam pertemuan antara lain Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi), Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla (JK), Ketua Umum Partai Golongan Karya Bahlil Lahadalia, dan mantan Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda.

Dalam keterangan pers setelah pertemuan, Bahlil mengungkapkan, Prabowo menjelaskan berbagai hal terkait dengan perkembangan geopolitik dan kesiapan Indonesia dalam menghadapi semua dinamika global. Khususnya dalam konteks energi dan beberapa persoalan lain.

"Prinsipnya adalah kami dari partai politik sangat memahami posisi yang dilakukan oleh bapak presiden dan juga kesiapan-kesiapan, langkah-langkah untuk mengantisipasi ini. Semuanya ini kita lakukan dalam rangka bagaimana mendorong agar kejadian di global bisa kita antisipasi untuk mengamankan negara kita," kata Bahlil yang juga Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral.

Terpisah, Hassan menjelaskan, Prabowo memperbarui informasi terkait perkembangan terbaru yang terjadi di dunia, khususnya terkait serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran. Menurut dia, diskusi membahas implikasi serangan tersebut terhadap dunia dan Indonesia.

"Ketika tatanan dunia sudah tidak lagi efektif dan tidak ada lagi peluang kepada negara yang menjadi korban serangan militer untuk mengadu kepada siapa, karena PBB sudah tidak berperan, dan aturan atau rule based order hanya on paper dan memang tidak ada kekuatan pemaksa, apalagi kalau itu berkaitan dengan negara-negara besar," ujar Hassan.

Menurut dia, Prabowo menggambarkan tantangan Indonesia yang harus menavigasi 'pelayaran' tidak hanya di antara dua karang, melainkan beberapa karang. Hal itu tidak mudah.

"Karena itu didiskusikan tentang implikasinya ini terhadap keseluruhan masalah keamanan dan perdamaian dunia, tapi juga potensi efek dari perang ini terhadap ekonomi dunia, khususnya yang menyangkut supply oil, minyak, dan gas. Nah, kita berhitung semua, apa efeknya terhadap kita, dari sisi itu saja," kata Hassan.

Kalkulasi juga dilakukan mengingat durasi perang belum jelas. Semula, menurut Hassan, Presiden AS Donald Trump bilang akan berlangsung beberapa hari. Namun sekarang ada potensi perang berlangsung beberapa pekan ke depan. Belum lagi jika AS menggelar pasukan darat karena bisa memicu reaksi perlawanan dari negara-negara di Timur Tengah.

"Itu juga akan besar, membesar, dan karena itu perang berlangsung lama. Ini persoalan atau dilema yang kita hadapi. Inilah dihadapi oleh banyak negara, bukan hanya kita sendiri. Karena itu presiden menganggap penting untuk mengomunikasikan permasalahan-permasalahan dihadapi oleh pemerintah, dihadapi oleh presiden kepada kita yang diminta datang pada malam hari ini," ujar Hassan.

"Tapi juga sebelumnya kita tahu kesempatan briefing oleh presiden terhadap berbagai kelompok melalui pertemuan seperti ini, yang sifatnya briefing, kemudian dialog atau tanya jawab, dan selebihnya ya masing-masing kita mencoba memberikan kontribusi pemikiran. Dan presiden sangat terbuka untuk dalam menanggapi usul-usul pemikiran dari para peserta," lanjutnya.



(miq/miq) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: BI Pastikan Jaga Stabilitas Rupiah di Tengah Konflik Global