Rencana RI Punya Pembangkit Nuklir Makin Nyata, Ini Kabar Terbarunya
Jakarta, CNBC Indonesia - Dewan Energi Nasional (DEN) memastikan rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Indonesia telah bergerak dari mulanya hanya tahap perencanaan, kini telah menuju langkah konkret implementasi.
Pemerintah saat ini tengah fokus pada upaya tiga aspek fundamental untuk merealisasikan target operasional reaktor nuklir pertama mulai 2032 mendatang.
Sekretaris Jenderal DEN Dadan Kusdiana mengungkapkan bahwa persiapan Indonesia dalam memanfaatkan energi nuklir menjadi semakin konkret di lapangan. Pemerintah saat ini memprioritaskan penyelesaian pemilihan lokasi yang aman, pemenuhan regulasi internasional, serta penguatan kemitraan strategis dengan negara-negara maju pemilik teknologi.
"Sebagai respons terhadap peluang dan tantangan ini, persiapan Indonesia menjadi semakin konkret. Kami memfokuskan upaya kami pada tiga pilar mendasar: pertama adalah pemilihan lokasi, kedua tonggak regulasi, dan yang terakhir adalah kerja sama internasional yang strategis seperti yang kami lakukan hari ini," ungkap Dadan dalam acara Pembukaan Workshop on Small Modular Reactor Deployment Considerations for Indonesia, di Jakarta, Selasa (3/3/2026).
Terkait lokasi pembangunan, pemerintah mengatakan telah mengantongi sejumlah titik potensial yang tersebar di Indonesia. Dadan menegaskan bahwa proses seleksi tersebut dilakukan dengan prinsip kehati-hatian yang tinggi, di mana hanya lokasi yang memenuhi kriteria keselamatan dan lingkungan paling ketat yang akan dipilih untuk eksekusi proyek.
"Pertama mengenai lokasi, kami telah mengidentifikasi beberapa lokasi potensial di seluruh kepulauan. Prinsip kami sederhana: kami hanya akan melanjutkan dengan lokasi yang memenuhi standar keselamatan dan lingkungan yang paling ketat," jelasnya.
Pemerintah juga memastikan bahwa seluruh tahapan persiapan ini tunduk pada panduan ketat dari Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA). Langkah disiplin ini diambil untuk memastikan semua prasyarat keselamatan terpenuhi seiring dengan transisi perjalanan energi nuklir Indonesia dari sekadar rencana di atas kertas menjadi aksi nyata.
"Perjalanan nuklir Indonesia bergerak dari perencanaan ke tindakan nyata," tandasnya.
Seperti diketahui, Indonesia memperkuat kemitraan strategis trilateral dengan Amerika Serikat (AS) dan Jepang untuk pengembangan teknologi nuklir di Tanah Air. Jepang dan AS memperkenalkan teknologi pengembangan nuklir salah satunya Reaktor Modular Kecil atau Small Modular Reactor (SMR).
Dadan menegaskan bahwa kerja sama tersebut merupakan langkah strategis dalam mempersiapkan infrastruktur, regulasi, dan sumber daya manusia (SDM) pengembangan nuklir di Indonesia. Ia menyebutkan bahwa pemerintah menargetkan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) pertama beroperasi secara komersial pada awal dekade 2030-an.
"Target RUPTL 2025-2034 adalah kapasitas awal sebesar 500 Mega Watt. Ini akan disebarkan secara strategis mulai tahun 2032 di sistem kelistrikan Sumatra dan Kalimantan," kata Dadan.
Dadan menjelaskan bahwa teknologi SMR cocok untuk negara kepulauan seperti Indonesia karena fleksibilitasnya. Berbeda dengan reaktor skala besar konvensional, SMR dapat ditempatkan di daerah terpencil dan diintegrasikan ke dalam jaringan listrik regional yang lebih kecil, sehingga ideal untuk mendukung kawasan industri dan ekonomi biru.
"Sinergi trilateral ini memastikan bahwa Indonesia tidak hanya membangun tenaga nuklir, tetapi juga membangun tanggung jawab, mengikuti standar internasional tertinggi untuk keselamatan, keamanan, dan perlindungan," tambahnya.
(wia) Add
source on Google