MARKET DATA

Malaysia Lebih Canggih, Data Produksi Sawit RI Dipertanyakan Petani

Ferry Sandi,  CNBC Indonesia
03 March 2026 13:05
Panen tandan buah segar kelapa sawit di kebun Cimulang, Candali, Bogor, Jawa Barat. Kamis (13/9). Kebun Kelapa Sawit di Kawasan ini memiliki luas 1013 hektare dari Puluhan Blok perkebunan. Setiap harinya dari pagi hingga siang para pekerja panen tandan dari satu blok perkebunan. Siang hari Puluhan ton kelapa sawit ini diangkut dipabrik dikawasan Cimulang. Menurut data Kementeria Pertanian, secara nasional terdapat 14,03 juta hektare lahan sawit di Indonesia, dengan luasan sawit rakyat 5,61 juta hektare. Minyak kelapa sawit (CPO) masih menjadi komoditas ekspor terbesar Indonesia dengan volume ekspor 2017 sebesar 33,52 juta ton.
Foto: Panen tandan buah segar kelapa sawit di kebun Cimulang, Candali, Bogor, Jawa Barat (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Isu tata kelola dan akurasi data produksi sawit kembali mencuat. Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) menilai angka produksi nasional belum sepenuhnya mencerminkan kondisi di lapangan. Petani membandingkan apa yang sudah dilakukan Malaysia, dengan sistem real time mencatat produksi sawit.

Sekjen Apkasindo Rino Afrino mengaku belum melihat gambaran produksi yang benar-benar transparan dan sinkron dengan luas lahan yang tercatat.

"Saya jujur saja belum bisa melihat produksi Indonesia itu clear and clear. Yang menghitung 46 juta ton (CPO) dengan luas 17 juta hektare itu kayaknya nggak matching," katanya dikutip Selasa (3/3/2026).

Ia menyinggung program peremajaan sawit rakyat (replanting) yang telah berjalan satu dekade dengan dukungan dana besar.

"Tidak ada artinya sudah menggelontorkan 400 ribu hektare replanting kalau dirata-ratakan petaninya cuma 300 kg. Kebun petani saya saja yang replanting sudah 2 ton (Tandan Buah Segar/TBS/Hektare/Bulan)," ujarnya.

Menurutnya, jika benar produktivitas meningkat, grafik produksi nasional seharusnya menunjukkan lonjakan signifikan.

"Harusnya dengan hadirnya 10 tahun BPDP, replanting 400 ribu, pelatihan SDM puluhan ribu, masa grafik produksinya stagnan?" tegas Rino.

Ia juga mempertanyakan ketersediaan pasokan yang dinilai cukup untuk biodiesel, minyak goreng, hingga industri oleokimia, meski data produksi terkesan datar.

"Biodieselnya naik, minyak goreng cukup, tidak ada kelangkaan. Barangnya dari mana? Impor tidak mungkin, pasti dari dalam negeri," katanya.

Rino mendorong percepatan pembangunan sistem data tunggal kelapa sawit nasional yang terintegrasi dan real time.

"Kita tidak punya data real time seperti Malaysia Palm Oil Board. Mereka punya sistem harian, semua PKS wajib lapor. Traceability mereka sudah lebih dari 80%," ujarnya.

Ia menilai diplomasi sawit Indonesia di forum global akan lebih kuat jika didukung data konkret dan transparan. "Kita keliling dunia bilang sawit baik, tapi begitu datanya dibuka realisasi ISPO jeblok. Kita punya PR besar di situ," tutupnya.

(hoi/hoi) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article RI Jual Solar Campur 50% CPO (B50) di 2026, Kebutuhan Sawit Bertambah


Most Popular
Features