Kelompok Ini Minta Petani Sawit Tua 4 Dekade Disapu Bersih-Diberi Dana

Ferry Sandi, CNBC Indonesia
Selasa, 03/03/2026 10:25 WIB
Foto: Perkebunan kelapa sawit (The Washington Post via Getty Images)

Jakarta, CNBC Indonesia - Produktivitas kebun sawit milik petani rakyat dinilai masih jauh tertinggal dibandingkan perusahaan besar. Kondisi ini membuat kontribusi petani terhadap produksi nasional belum optimal.

Sekjen Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Rino Afrino mengatakan peningkatan produktivitas harus menjadi prioritas agar kesejahteraan petani ikut terdongkrak.

Ia menilai negara memiliki kewajiban untuk membuka akses yang lebih luas bagi petani, mulai dari program peremajaan hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia.


"Kedaulatan produksi berarti petani harus mendapat akses peremajaan sawit rakyat, pelatihan, pendampingan, hingga bibit unggul," ujarnya di Kementan dikutip Selasa (3/3/2026).

Produksi nasional saat ini memang besar, namun sebagian besar masih berasal dari perkebunan korporasi. Upaya meningkatkan produksi petani harus dilakukan melalui berbagai dukungan, mulai dari akses bibit unggul hingga pelatihan sumber daya manusia.

"Kedaulatan produksi berarti petani harus mendapat akses seluas-luasnya untuk peremajaan sawit rakyat, pelatihan, pendampingan, dan sarana prasarana," katanya.

Ia juga menyoroti pelaksanaan program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) yang dinilai belum berjalan optimal. Padahal program tersebut sudah berjalan sejak beberapa tahun lalu dengan dukungan dana yang tersedia.

"Kenapa realisasi PSR selalu sekitar 30 persen? Padahal dananya ada dan program ini sudah berjalan sejak 2017," ujarnya.

Di lapangan banyak kebun sawit rakyat yang sudah berumur lebih dari empat dekade sehingga sangat membutuhkan peremajaan.

"Petani yang kebunnya sudah 40 tahun lebih, seperti di Kalimantan Barat, harusnya disapu bersih (dan) menerima PSR karena mereka bagian dari pembangunan sawit nasional sejak awal," kata dia.

Karena itu, ia mendorong agar program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) dijalankan secara lebih agresif, terutama di daerah yang kebunnya sudah tua.

"Petani yang sejak awal ikut pola PIR harusnya mendapat karpet merah untuk PSR karena mereka bagian dari pembangunan sawit nasional," ujarnya.


(dce) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Alasan Pengusaha Minta Pemerintah Perbaiki Tata Kelola Sawit RI