MARKET DATA

Selat Hormuz Memanas, Kargo Minyak RI dari Arab Ketahan!

Firda Dwi Muliawati,  CNBC Indonesia
02 March 2026 19:40
FILE PHOTO: Saudi Aramco's Ras Tanura oil refinery and oil terminal in Saudi Arabia, May 21, 2018. REUTERS/Ahmed Jadallah/File Photo
Foto: File Photo: Saudi Aramco (REUTERS/Ahmed Jadallah/File Photo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Komisi XII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI mengungkapkan bahwa eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran di Timur Tengah mulai berdampak pada rantai pasok energi Indonesia.

Dengan kondisi kawasan Teluk makin memanas dan Selat Hormuz ditutup, ini menyebabkan terganggunya distribusi kargo dari Arab Saudi dan negara Timur Tengah lainnya ke sejumlah negara, termasuk Indonesia.

Ketua Komisi XII DPR RI Bambang Patijaya menyebut, ada kargo dari Arab Saudi yang seharusnya menuju Indonesia menjadi tertahan.

"Ya, jadi memang dengan adanya perang Amerika, Israel melawan Iran, ini memang berdampak kepada pasokan karena terutama melewati Selat Hormuz. Nah pada saat ini, ada kargo yang tertahan dari Arab Saudi menuju ke Indonesia," ungkap Bambang kepada CNBC Indonesia, Senin (2/3/2026).

"Hari ini, Indonesia itu mengimpor tiga jenis barang dari Arab Saudi. Yang pertama itu crude, yang kedua produk BBM itu adalah bensin atau Pertalite, kemudian yang ketiga adalah LPG," paparnya.

Bambang pun telah meminta pemerintah melalui Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas) Kementerian ESDM untuk segera melakukan koordinasi lanjutan. Pendekatan secara Business to Business (B2B) antara Pertamina dengan mitra dagang lain di luar Arab Saudi dinilai perlu segera dieksekusi, mengingat pasokan energi global tidak hanya bergantung pada satu sumber negara saja.

"Jadi misalkan kalau dengan Arab Saudinya itu kan dengan Aramco itu ada masalah tentu bisa dicarikan solusi lain, karena pasokan ini kan bukan hanya dari Arab Saudi saja," tambahnya.

Di samping itu, Bambang mendesak PT Pertamina (Persero) untuk bergerak cepat menganalisis situasi serta mengambil keputusan taktis guna memitigasi risiko kelangkaan pasokan di dalam negeri.

Terkait dampak terhadap harga, ia menyadari bahwa fluktuasi tersebut sulit dihindari karena patokan harga energi Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) sangat bergantung pada pergerakan harga pasar dunia yang merespons situasi perang.

"Nah untuk itu kita berharap bahwa Pertamina ini dapat segera menganalisis situasi dan melakukan pengambilan keputusan untuk mengantisipasi dan memitigasi situasi yang ada ini," tandasnya.

(wia) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Ketua Komisi XII DPR Minta Pertamina Jaga Kualitas BBM di Jatim


Most Popular
Features