Panas Timur Tengah, Industri Ini Bakal Kena 2 Pukulan Beruntun

Ferry Sandi, CNBC Indonesia
Senin, 02/03/2026 12:45 WIB
Foto: Ilustrasi Ekspor- Impor (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah tidak hanya berpotensi memicu lonjakan harga energi global, tetapi juga dapat menekan kinerja sejumlah sektor industri di Indonesia. Industri yang bergantung pada bahan baku impor dinilai menjadi salah satu yang paling rentan terhadap gejolak tersebut.

Gangguan pada jalur perdagangan energi dunia dapat memicu kenaikan harga minyak global yang pada akhirnya meningkatkan biaya logistik dan biaya produksi dalam negeri.

Founder dan CEO Supply Chain Indonesia (SCI) Setijadi mengatakan sektor industri yang bergantung pada impor bahan baku berpotensi menghadapi tekanan berlapis.


"Industri berbasis impor bahan baku menghadapi risiko ganda, yaitu kenaikan biaya impor akibat lonjakan harga minyak serta peningkatan biaya distribusi domestik," kata Setijadi dalam keterangannya, Senin (2/2/2026).

Kenaikan harga energi global tidak hanya berdampak pada biaya transportasi internasional, tetapi juga merambat pada biaya logistik di dalam negeri.

Kondisi tersebut membuat sejumlah sektor usaha menghadapi tekanan yang cukup besar, terutama industri dengan margin keuntungan yang relatif tipis.

"Sektor konstruksi dan UMKM juga relatif rentan karena tingginya biaya angkut dan keterbatasan margin yang dimiliki," ujarnya.

Sistem logistik nasional yang masih bertumpu pada transportasi jalan membuat biaya distribusi sangat sensitif terhadap perubahan harga bahan bakar.

"Struktur logistik Indonesia yang masih bertumpu pada transportasi jalan membuat sensitivitas terhadap harga solar relatif tinggi," kata dia.

Ketergantungan yang besar terhadap moda transportasi darat tersebut membuat setiap lonjakan harga energi global dapat langsung memengaruhi biaya distribusi nasional.

"Dalam kondisi seperti ini, risiko terbesar yang muncul adalah tekanan inflasi biaya distribusi, terutama pada komoditas pangan dan kebutuhan pokok," ujarnya.

Untuk meredam dampak tersebut, menurut Setijadi, pemerintah perlu menjaga stabilitas harga energi sekaligus mempercepat perbaikan sistem logistik nasional.

"Pemerintah perlu menjaga stabilitas harga BBM melalui kebijakan fiskal yang adaptif serta mempercepat diversifikasi energi," katanya.

Selain itu, penguatan konektivitas logistik juga dinilai menjadi langkah penting untuk mengurangi ketergantungan pada transportasi darat.

"Penguatan konektivitas multimoda, khususnya optimalisasi angkutan laut dan kereta api, menjadi krusial untuk menurunkan sensitivitas terhadap fluktuasi harga solar," kata Setijadi.


(dce) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Perang Hampir Pecah, Ramai Negara Minta Warganya Tinggalkan Iran