Ekonom Ingatkan Perang Iran Jadi Ujian Ketahanan Fiskal & Energi RI

haa, CNBC Indonesia
Senin, 02/03/2026 11:15 WIB
Foto: (via REUTERS/WANA)

Jakarta, CNBC Indonesia - Perang antara Iran dan Amerika Serikat (AS) serta Israel berisiko memberikan dampak buruk terhadap perekonomian Indonesia. Kondisi ini akan memberikan tekanan terhadap fiskal, inflasi hingga neraca perdagangan RI.

Chief Economist Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian mengatakan Selat Hormuz bukan sekadar jalur pelayaran. Ia adalah salah satu choke point energi dunia. Ketika risiko di sana meningkat, pasar tidak hanya menghitung barel minyak yang hilang, tetapi menghitung premi ketidakpastian.


Sekitar 20% pasokan minyak global melewati kawasan tersebut. Dalam situasi eskalasi geopolitik, harga minyak cenderung merespons lebih cepat dibandingkan data pasokan riil. Fakhrul menilai bahwa pasar saat ini sedang membangun risk premium, bukan semata mencerminkan gangguan fisik.

Menurut Fakhrul, Indonesia sebagai net importer energi tidak bisa menghindari transmisi harga global.

"Setiap kenaikan US$ 10 per barel pada harga minyak memiliki implikasi langsung terhadap biaya impor energi nasional dan akan menurunkan USD250mn surplus neraca dagang Indonesja. Ini berarti tekanan terhadap neraca perdagangan migas, terhadap fiskal jika subsidi diperluas, dan terhadap cashflow BUMN energi seperti Pertamina," kata Fakhrul, Senin (2/3/2026).

Namun ia menegaskan bahwa ini bukan situasi krisis, melainkan situasi manajemen risiko.

"Yang diuji bukan hanya harga minyak, tetapi kapasitas hedging, diversifikasi pasokan, dan ketahanan cadangan strategis kita," ujarnya.

Fakhrul menjelaskan bahwa dampak pertama dari lonjakan harga minyak biasanya muncul melalui kanal energi dan transportasi.

"Energi adalah input hampir semua sektor. Ketika harga energi naik, biaya logistik naik, harga pangan bisa terdorong, dan tekanan inflasi menjadi lebih luas."

Namun ia menambahkan bahwa dampaknya terhadap inflasi Indonesia akan sangat bergantung pada dua hal, yakni kebijakan harga domestik energi, serta respons fiskal dan moneter terhadap transmisi inflasi.

"Jika shock bersifat sementara dan tidak diikuti eskalasi lanjutan, dampaknya bisa dikelola. Tetapi jika konflik meluas dan supply disruption riil terjadi, maka tekanan inflasi bisa lebih persisten," katanya.

Menurut Fakhrul, konflik Iran adalah pengingat bahwa stabilitas ekonomi tidak bisa hanya didefinisikan sebagai stabilitas nilai tukar atau inflasi semata.

"Ketahanan nasional hari ini adalah kombinasi dari ketahanan energi, ketahanan fiskal, dan fleksibilitas kebijakan."

Ia menilai ada tiga fokus strategis yang perlu dijaga manajemen cadangan energi dan diversifikasi pasokan, buffer fiskal yang cukup untuk menyerap shock harga dan koordinasi moneter-fiskal yang responsif namun tidak reaktif berlebihan.

"Indonesia tidak boleh panik, Tetapi juga tidak boleh abai. Dunia sedang memasuki fase geopolitik yang lebih volatile. Energi akan tetap menjadi variabel strategis dalam perhitungan makro," ujarnya.

Chief Economist Sucor Sekuritas Ahmad Mikail Zaini mengingatkan dampak konflik ini akan langsung terasa ke pasar energi

Harga minyak mentah Brent telah melonjak sekitar 10% hingga mendekati $80 per barel. Namun, risiko yang lebih besar ada di depan. Gangguan berkelanjutan terhadap aliran minyak melalui Selat Hormuz - titik rawan yang membawa sekitar 20% pasokan minyak global - dapat mendorong harga jauh lebih tinggi.

"Dalam skenario ekstrem yang melibatkan penutupan berkepanjangan atau gangguan besar, harga minyak dapat melonjak hingga kisaran US$ 200 per barel," ujarnya.

Risiko ini jauh lebih besar daripada guncangan minyak setelah invasi Rusia ke Ukraina. Pada tahun 2022, harga minyak mentah melonjak sekitar 65% ketika ekspor Rusia dibatasi - dan Rusia menyumbang sekitar 10% dari pasokan minyak global.

Sebaliknya, Ahmad melihat gangguan di Teluk Persia akan memengaruhi sebagian besar produksi global, membuat konflik ini berpotensi jauh lebih inflasi.

Untuk Indonesia dan negara berkembang lainnya, dia menegaskan konsekuensi makroekonomi langsungnya adalah tekanan inflasi.

"Lonjakan harga minyak dengan cepat menyebar melalui biaya transportasi, tagihan energi, harga input industri, dan pada akhirnya inflasi konsumen," paparnya dalam laporan tertulis, Senin (2/3/2026).

Sementara itu, bagi perekonomian utama-terutama Amerika Serikat-guncangan ini datang pada saat yang sangat sensitif. Dia melihat inflasi inti tetap tinggi ke depannya, sementara para pembuat kebijakan telah dengan hati-hati mempersiapkan landasan untuk pemotongan suku bunga di akhir tahun ini.

Guncangan inflasi yang dipicu oleh harga minyak secara fundamental mengubah prospek tersebut. Jika harga minyak bertahan di atas US$100 per barel, inflasi utama akan kembali meningkat.

Adapun, kemampuan Federal Reserve untuk memotong suku bunga secara efektif akan hilang. Alhasil, dunia kembali dibayangi oleh suku bunga yang lebih tinggi dalam jangka waktu lebih lama.

"Hal ini menciptakan dilema kebijakan baru: risiko inflasi versus stabilitas keuangan," kata Ahmad.


(haa/haa) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Iran Tutup Sebagian Selat Hormuz Saat Latihan Militer