Ribuan pelancong terlantar setelah sejumlah negara Timur Tengah menutup wilayah udara mereka menyusul serangan militer terhadap Iran, Minggu (1/3/2026). Penutupan itu menyebabkan gangguan besar pada jaringan penerbangan internasional yang menghubungkan Eropa, Afrika, dan Asia. Dalam foto penumpang terlantar di bandara di Dhaka, Bangladesh. (REUTERS/Mohammad Ponir Hossain)
Pusat transit utama di Dubai, Abu Dhabi, dan Doha menghentikan operasi setelah beberapa negara termasuk Israel, Qatar, Irak, Kuwait, dan Bahrain menutup ruang udara mereka. Belum diketahui kapan situasi akan kondusif. (REUTERS/Mohammad Ponir Hossain)
Data pelacakan dari FlightRadar24 juga menunjukkan tidak ada aktivitas penerbangan di atas Uni Emirat Arab setelah pemerintah mengumumkan penutupan sementara sebagian wilayah udara. (REUTERS/Mohammad Ponir Hossain)
Penutupan ini, dilansir Reuters, memicu pembatalan lebih dari 1.000 penerbangan maskapai besar kawasan. Dalam foto penumpang pesawat frustasi terlihat di bandara internasional Dhaka. (REUTERS/Mohammad Ponir Hossain)
Menurut analis penerbangan Cirium menyebutkan, dalam kondisi normal, tiga maskapai utama, yakni Emirates, Qatar Airways, dan Etihad Airways bisa melayani sekitar 90.000 penumpang per hari melalui hub tersebut. Namun kini berkurang drastis. (REUTERS/Mohammad Ponir Hossain)
Maskapai yang biasanya melintasi wilayah konflik kini harus memutar rute, banyak di antaranya melewati wilayah Arab Saudi. Pengalihan ini menambah waktu tempuh dan konsumsi bahan bakar sehingga berpotensi menaikkan harga tiket jika konflik berlanjut. (REUTERS/Mohammad Ponir Hossain)