Kronologi & Sebab Perang Terbuka 2 Negara Muslim Pakistan-Afghanistan
Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan kembali meningkat antara Pakistan dan Afghanistan. Dua negara muslim itu kini terlibat saling serang.
Pakistan membombardir kota-kota Afghanistan, Kabul dan Kandahar Jumat (27/2/2026) pagi. Beberapa jam sebelumnya, pasukan Afghanistan menyerang tentara perbatasan Pakistan.
Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Asif bahkan menyebut negerinya sedang "perang terbuka" dengan Afghanistan. "Sekarang ini adalah perang terbuka antara kami dan Anda," ujarnya di X, Jumat (27/2/2026).
Menteri Informasi Pakistan Attaullah Tarar mengatakan pertahanan Taliban Afghanistan di Kabul, Paktia dan Kandahar menjadi target. Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi menegaskan angkatan bersenjata telah memberikan tanggapan yang setimpal terhadap agresi terbuka Taliban Afghanistan
Lalu apa yang sebenarnya terjadi? Apa kronologi dan sebab keduanya terlibat pertempuran?
Perselisihan dimulai di Garis Durand. Ini adalah perbatasan sepanjang 2.670 kilometer (km) kedua negara, yang sejak lama menjadi sumber sengketa Pakistan dan Afghanistan.
Sejak Taliban kembali berkuasa di Kabul pada Agustus 2021, harapan akan stabilitas regional sempat menguat. Namun dalam empat tahun terakhir, hubungan kedua negara justru diwarnai eskalasi militer, penutupan perbatasan, deportasi pengungsi, hingga saling panggil duta besar.
Akar Masalah
Akar persoalan bermula pada 1893 ketika Inggris menetapkan Durand Line sebagai batas antara Afghanistan dan wilayah India Britania (Pakistan). Kabul tidak pernah secara resmi mengakui garis ini sebagai perbatasan internasional karena membelah wilayah etnis Pashtun.
Sebaliknya, Islamabad menganggap Durand Line sebagai batas sah. Bahkan, negeri itu telah membangun pagar serta pos keamanan untuk menekan pergerakan militan lintas negara.
Ketegangan meningkat setelah Taliban kembali berkuasa pada 2021. Pakistan berharap pemerintahan baru di Kabul dapat membantu menekan aktivitas Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP), kelompok militan yang kerap melancarkan serangan di wilayah Pakistan.
Namun realitas di lapangan menunjukkan sebaliknya. Serangan terus dilakukan TTP ke Pakistan
TTP Pakistan menganggap pemerintah Pakistan tidak menjalankan sistem pemerintahan berbasis interpretasi syariah versi mereka, menyebabkan konflik panjang antara kelompok militan dan negara sejak awal 2000-an. Pakistan pun menuding Kabul membiarkan militan TTP berlindung di wilayah Afghanistan.
Bentrokan bersenjata mulai terjadi di sejumlah titik perlintasan utama seperti Chaman-Spin Boldak dan Torkham. Insiden baku tembak terkait pembangunan pagar dan pos pemeriksaan menyebabkan korban sipil di kedua sisi perbatasan.
Situasi MemburukÂ
Situasi memburuk di 2022. Kala itu, Pakistan melancarkan serangan udara ke provinsi Khost dan Kunar, menargetkan lokasi yang diduga menjadi basis TTP.
Taliban mengecam aksi tersebut sebagai pelanggaran kedaulatan. Gelombang protes muncul di berbagai kota Afghanistan.
Perbatasan beberapa kali ditutup, mengganggu arus perdagangan dan membuat ribuan warga terjebak. Upaya diplomasi melalui jalur intelijen dan militer tak menghasilkan solusi permanen.
Bentrokan MematikanÂ
Di 2023, bentrokan langsung semakin sering terjadi di wilayah Chaman-Spin Boldak. Laporan mengenai tembakan artileri dan korban jiwa, baik warga Afghanistan maupun personel militer Pakistan, meningkat.
Pakistan kembali menuding Taliban memberi ruang aman bagi TTP, terutama setelah serangkaian serangan di Khyber Pakhtunkhwa dan Balochistan. Sebaliknya, Taliban menuduh Pakistan memilih pendekatan militer dibanding dialog.
Penutupan jalur perdagangan lintas batas berulang kali terjadi. Islamabad juga memperketat kebijakan visa dan memulai deportasi pengungsi Afghanistan ilegal, memicu krisis kemanusiaan baru.
Konflik Meluas dan Krisis Kemanusiaan
Pada 2024, konflik semakin melebar. Pakistan memperkuat kehadiran militernya di perbatasan dan menambah pos pemeriksaan. Kabul merespons dengan pengerahan pasukan Taliban dan kendaraan lapis baja.
Insiden tembakan artileri lintas batas dan penggunaan drone pengintai menjadi lebih umum. Ribuan warga desa di wilayah perbatasan mengungsi akibat kekerasan.
Pakistan juga menuding serangan mematikan di wilayahnya, termasuk di Bannu, dirancang dari wilayah Afghanistan. Taliban kembali membantah keras tuduhan tersebut.
Hubungan diplomatik kemudian kembali membeku. Kedua negara saling memanggil duta besar.
Kebuntuan dan Risiko Eskalasi Lebih Besar
Memasuki 2025, situasi di perlintasan Chaman dan Torkham masih tegang. Baku tembak sporadis terus terjadi.
Pakistan mempertahankan kebijakan keamanan ketat, termasuk percepatan deportasi pengungsi Afghanistan. Negeri itu tetap maju terus meski kebijakan yang menuai kritik internasional.
Upaya mediasi oleh kekuatan regional seperti China dan Iran sejauh ini belum menghasilkan terobosan signifikan. Tanpa mekanisme komunikasi yang stabil, kedua negara tetap berada dalam kondisi siaga tinggi, dengan risiko eskalasi lebih luas yang dapat mengguncang stabilitas Asia Selatan.
(sef/sef) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]