MARKET DATA
Internasional

Iran-AS Mulai Lagi Perundingan Nuklir, Teheran Ajukan Tiga Syarat

Thea Fathanah Arbar,  CNBC Indonesia
26 February 2026 14:57
Ilustrasi bendera Amerika Serikat dan Iran. (iStockphoto/studiocasper)
Foto: Ilustrasi bendera Amerika Serikat dan Iran. (iStockphoto/studiocasper)

Jakarta, CNBC Indonesia - Iran memulai perundingan penting terkait program nuklir dengan Amerika Serikat (AS) pada Kamis (26/2/2026). Pemerintah Iran menegaskan kesepakatan masih mungkin dicapai selama Washington mematuhi tiga syarat utama yang diajukan Teheran.

Sejumlah diplomat Iran menyebut tiga syarat tersebut meliputi pengakuan hak simbolis Iran untuk memperkaya uranium, izin untuk mengurangi stok uranium yang sangat diperkaya, serta tidak adanya tuntutan pembatasan terhadap program rudal balistik Iran. Namun, belum jelas apakah Presiden AS Donald Trump menyetujui parameter tersebut.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio sebelumnya menegaskan isu rudal balistik menjadi perhatian utama Washington. "Ini akan menjadi masalah besar jika Iran tidak mau bernegosiasi soal rudal," kata Rubio.

Sementara itu, utusan khusus AS Steve Witkoff bersama Jared Kushner disebut telah menerima prinsip-prinsip dasar tersebut dalam dua putaran perundingan tidak langsung sebelumnya. Mereka dijadwalkan menuju Jenewa untuk melanjutkan pembahasan.

Sumber yang dekat dengan tim negosiasi Iran mengatakan, proposal awal dari pihak AS dinilai relatif longgar. Namun, tidak ada tawaran pelonggaran sanksi secara langsung, sehingga Iran masih menghadapi tekanan ekonomi.

"Permintaan utama hanyalah pembatasan pengayaan uranium di bawah 5% dan pengalihan penuh untuk penggunaan sipil," ujar sumber tersebut, seperti dikutip The Guardian.

Menjelang keberangkatan ke Jenewa, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan target Teheran adalah mencapai kesepakatan secepat mungkin.

"Iran tidak akan pernah berupaya mengembangkan senjata nuklir. Namun, kami juga tidak akan melepaskan hak kami atas teknologi nuklir damai," kata Araghchi. "Mencapai kesepakatan dimungkinkan, tetapi hanya jika diplomasi diprioritaskan."

Pernyataan tersebut muncul di tengah nada keras dari Trump dalam pidato kenegaraan yang memperingatkan ancaman rudal balistik Iran dan kembali menuding Teheran sebagai sponsor terorisme. Trump juga mengklaim Iran masih mengejar ambisi senjata nuklir, tuduhan yang dibantah keras oleh pemerintah Iran.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei bahkan membandingkan pernyataan Trump dengan propaganda Joseph Goebbels.

"Apapun yang mereka tuduhkan hanyalah pengulangan 'kebohongan besar'," tulis Baqaei di media sosial X.

Kehadiran Raphael Grossi, kepala badan pengawas nuklir PBB, dalam perundingan Jenewa juga dinilai krusial. Grossi memiliki kewenangan untuk menilai apakah akses verifikasi yang ditawarkan Iran memenuhi standar internasional.

Iran juga disebut siap membantu Trump mengklaim bahwa kesepakatan baru ini lebih baik dibanding perjanjian nuklir 2015 yang dicapai di era Barack Obama. Langkah ini dipandang penting bagi kepentingan politik domestik AS.

Sementara proses diplomasi berlangsung, situasi domestik Iran masih bergejolak. Protes mahasiswa dilaporkan terus terjadi di sejumlah universitas, hampir dua bulan setelah gelombang demonstrasi antipemerintah merebak di berbagai kota.

 

(luc/luc) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Trump Kumpulkan 'Dewa Perang' Israel-Saudi, Persiapan Serang Iran?


Most Popular
Features