MARKET DATA

Bukan AS, Perusahaan Teknologi Nuklir Thorcon Berbasis di Singapura

ven,  CNBC Indonesia
26 February 2026 14:40
Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). (Dok. thorconpower.id)
Foto: Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). (Dok. thorconpower.id)

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Thorcon Power Indonesia buka suara terkait pemberitaan yang menyebut Pemerintah Amerika Serikat tidak mengenal perusahaan nuklir bernama Thorcon. Terutama, yang selama ini aktif melakukan sosialisasi proyek reaktor nuklir di Indonesia.

Direktur Operasi PT Thorcon Power Indonesia Dhita Karunia Ashari menjelaskan bahwa Thorcon merupakan grup pengembang teknologi molten salt reactor (MSR) yang berbasis global dengan kantor pusat di Singapura.

Menurut Dhita, fokus utamanya adalah pengembangan reaktor generasi lanjut untuk diimplementasikan di berbagai negara mitra, termasuk Indonesia. Teknologi MSR Thorcon sendiri dikembangkan di Amerika Serikat.

"Thorcon merupakan grup perusahaan pengembang teknologi molten salt reactor (MSR) yang berbasis global dengan kantor pusat di Singapura. Fokus utamanya adalah pengembangan reaktor generasi lanjut yang dirancang untuk implementasi di berbagai negara mitra, termasuk Indonesia," ungkapnya, dalam keterangan tertulis, kepada CNBC Indonesia, Kamis (26/2/2026).

"Teknologi MSR Thorcon dikembangkan di Amerika Serikat. Thorcon telah hadir di Indonesia sejak 2018 sebagai Kantor Perwakilan," ujarnya.

Perusahaan juga telah memiliki kantor cabang di Bangka Belitung serta mempekerjakan sejumlah putra daerah. Dengan demikian, terkait isu Thorcon tidak dikenal sebagai operator di Amerika Serikat, perusahaan menyatakan memang belum memulai tahapan perizinan untuk menjadi operator di AS.

"Model bisnis yang dijalankan adalah pengembangan dan komersialisasi teknologi, bukan pengoperasian pembangkit listrik dalam negeri AS. Karena itu, absennya nama Thorcon dalam daftar operator PLTN di Amerika Serikat mencerminkan perbedaan model usaha, bukan persoalan eksistensi atau kredibilitas," jelasnya.

Sebelumnya, Ketua Komisi XII DPR RI Bambang Patijaya mengungkapkan fakta yang cukup mengejutkan terkait keberadaan perusahaan nuklir asal Amerika Serikat bernama Thorcon. Menurut dia, Pemerintah Amerika Serikat tidak mengenal perusahaan nuklir bernama Thorcon yang selama ini aktif melakukan sosialisasi proyek di Indonesia.

Hal tersebut ia ungkapkan usai menerima kunjungan Duta Besar Amerika Serikat, yang salah satunya membahas program FIRST, program inisiatif pemerintah AS untuk memperkenalkan teknologi Small Modular Reactor (SMR) ke sejumlah negara.

Dalam kesempatan itu, Bambang lantas meminta penjelasan terkait keberadaan dan aktivitas Thorcon di Indonesia. Pasalnya, perusahaan tersebut terlalu gencar melakukan sosialisasi sehingga berpotensi menimbulkan gesekan di masyarakat.

Ia lantas meminta penjelasan kepada Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) terkait pihak yang selama ini memfasilitasi aktivitas Thorcon di Indonesia. Mengingat, dari pihak pemerintah AS sendiri, Thorcon tidak dikenal sebagai perusahaan pembangun maupun operator PLTN.

"Sebetulnya dari BAPETEN siapa yang selama ini memfasilitasi Thorcon ini. Karena Thorcon ini setelah kami tanya kepada Kedutaan Besar Amerika, pertama, mereka tidak mengenali perusahaan ini sebagai perusahaan pembangun atau operator daripada PLTN," kata Bambang dalam RDP bersama Pelaksana Tugas Kepala BAPETEN, Selasa (10/2/2026),

Menurut dia, pemerintah AS justru lebih mengenal pengembang SMR lainnya seperti NuScale Power, yang juga memiliki rencana pembangunan PLTN di Indonesia. Bambang pun menegaskan bahwa DPR tidak mendukung atau menolak perusahaan tertentu.

Hanya saja, ia mengingatkan agar BAPETEN tidak menjadi perantara bagi pihak asing dalam memfasilitasi perusahaan riset yang belum siap berkembang menjadi pengembang, sehingga Indonesia tidak dijadikan sebagai proyek percontohan.

"Menurut kami ini bisa menjadi skandal kalau kemudian Bapeten memfasilitasi perusahaan yang tidak kompeten, yang belum memiliki izin apapun, tidak memiliki izin license to design, belum memiliki izin license to construct, belum memiliki izin license to operate, gimana mau operate, gimana mau construct kalau design pun belum jelas," kata Bambang.

(ven/wia) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Mau Bangun Pembangkit Nuklir, Begini Persiapan Terkini Pemerintah


Most Popular
Features