Produsen Motor RI Tunggu Kecipratan Cuan Besar Kopdes Merah Putih

Ferry Sandi, CNBC Indonesia
Kamis, 26/02/2026 13:30 WIB
Foto: Ilustrasi desain bangunan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, sumber: paparan Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara (Persero) Joao Angelo De Sousa Mota dalam Rapat Kerja bersama Komisi VI DPR RI, Selasa (18/11/2025), tangkapan layar YouTube TV Parlemen

Jakarta, CNBC Indonesia - Rencana pengadaan kendaraan untuk Koperasi Desa Merah Putih yang ramai dibicarakan belakangan ini lebih banyak menyorot sektor mobil niaga, yaitu pikap dan truk. Namun, kebijakan tersebut sebenarnya juga membuka peluang bagi industri sepeda motor nasional. Hingga saat ini permintaan motor dari Koperasi Desa (Kopdes) mulai muncul, namun masih sangat terbatas.

"Sejauh ini baru parsial, tapi belum besar. Parsial saja, tidak sampai seperti mobil," kata Direktur Marketing PT Astra Honda Motor (AHM) Octavianus Dwi Putro dalam buka puasa bersama AHM dikutip Kamis (26/2/2026).

Skema yang beredar dalam aturan awal menyebut setiap koperasi berpotensi mendapatkan beberapa jenis kendaraan sekaligus. Namun implementasinya masih menunggu kepastian lebih lanjut.


"Kalau aturannya kan setiap Koperasi Merah Putih dapat satu truk, satu pikap, dua motor. Tapi itu kan masih juklaknya. Kami pasti support, tapi tetap mengikuti prosesnya," ujarnya.

Hingga kini pihaknya belum menerima permintaan resmi dari koperasi desa untuk pembelian unit motor. Meski begitu, dari sisi industri, produsen motor disebut tidak menghadapi kendala untuk memenuhi kebutuhan tersebut apabila program tersebut berjalan.

"Kapasitas kita siap, jaringan juga siap, aftersales juga kita siapkan. Mudah-mudahan bisa backup semua," jelasnya.

Selama ini, kontribusi pembelian motor dalam skema fleet atau pembelian korporasi memang relatif kecil dibandingkan penjualan ritel. Namun segmen ini tetap memiliki pasar tersendiri.

"Mungkin sekitar 5-6% dari total penjualan," ujarnya.

Adapun jenis motor yang digunakan untuk kebutuhan fleet biasanya disesuaikan dengan kebutuhan operasional masing-masing instansi.

"Kalau di Cub atau bebek biasanya Revo atau Supra. Kalau di sport biasanya Verza atau CRF," katanya.

Sementara untuk segmen skuter matik, model yang digunakan lebih beragam karena kebutuhan pengguna yang berbeda-beda, mulai dari instansi pemerintah hingga perusahaan.

"Ada yang dipakai pemerintah, BUMN, ada yang di perkotaan, ada juga yang di daerah," kata Octavianus.

Dari berbagai model tersebut, Thomas menyebut dua tipe motor yang paling sering digunakan untuk kebutuhan fleet saat ini adalah Revo dan Verza.

"Kalau sekarang dominan Revo dan Verza," ujarnya.

Adapun motor trail seperti CRF pernah digunakan oleh sejumlah instansi tertentu seperti militer yang membutuhkan kendaraan operasional di medan berat.

"CRF pernah juga untuk instansi tertentu. Tergantung purpose-nya," jelasnya.

Terkait kemungkinan pemberian harga khusus untuk koperasi desa, Thomas mengatakan hal tersebut masih terlalu dini untuk dibahas karena belum ada spesifikasi kendaraan yang diminta.

"Kita belum tahu spek yang dibutuhkan karena belum pernah ada pembicaraan," kata dia.


(dce) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Penjualan Mobil Malaysia Naik Kejar Pasar Indonesia