Internasional

Aston Martin PHK Besar-besaran Karyawan Guna Hemat Rp 908 M

Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
Kamis, 26/02/2026 15:20 WIB
Foto: Aston Martin. (REUTERS/Priyanshu Singh/File Photo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Produsen mobil mewah asal Inggris, Aston Martin mengumumkan rencana pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 20% tenaga kerjanya. Langkah efisiensi ini diambil perusahaan guna menghemat biaya sekitar 40 juta pound (Rp 908,24 miliar) setelah melaporkan pembengkakan kerugian pada tahun fiskal 2025.

Grup yang mayoritas sahamnya dimiliki oleh miliarder Kanada Lawrence Stroll ini menyatakan akan memangkas sekitar 500 karyawan. Keputusan ini menyusul langkah serupa pada awal tahun lalu yang telah merumahkan 170 pekerja sebagai bagian dari penyesuaian operasional perusahaan.

Manajemen Aston Martin mengungkapkan bahwa setelah melakukan proses penyesuaian organisasi pada awal 2025 untuk memastikan sumber daya bisnis sesuai dengan rencana masa depan, mereka harus mengambil keputusan sulit di akhir tahun 2025 untuk menerapkan perubahan lebih lanjut.


"Program terbaru ini pada akhirnya akan berdampak pada kepergian hingga 20% dari tenaga kerja kami yang berharga," tulis pernyataan resmi manajemen Aston Martin dikutip Guardian.

Rincian pemangkasan hubungan kerja ini muncul bersamaan dengan laporan kerugian sebelum pajak yang membengkak menjadi 363,9 juta pound (Rp8,26 triliun) sepanjang tahun 2025. Angka tersebut meningkat dibandingkan kerugian tahun sebelumnya yang sebesar 289,1 juta pound (Rp6,56 triliun).

Tekanan terhadap kinerja perusahaan dipicu oleh hambatan perdagangan akibat kenaikan tarif Amerika Serikat (AS) serta melemahnya permintaan pasar. Kondisi ini sebenarnya telah diantisipasi investor setelah perusahaan mengeluarkan peringatan laba (profit warning) kelima sejak September 2024 dan menjual hak penamaan permanen tim Formula One miliknya senilai 50 juta pound (Rp1,13 triliun).

Chief Executive Officer Aston Martin, Adrian Hallmark, menegaskan pada hari Rabu bahwa pemangkasan jumlah karyawan memang tidak akan menyelesaikan seluruh kebutuhan penyesuaian ukuran perusahaan secara instan, namun langkah ini merupakan bagian penting dari gambaran besar strategi perusahaan.

"Proses untuk mengurangi jumlah karyawan sudah berjalan, yang mana ini penting untuk menjadikan kami lebih ramping dan efektif di masa depan," ujar Adrian Hallmark.

Saat ini, pabrikan mobil ikonik tersebut memiliki kantor pusat di Gaydon, Warwickshire, serta fasilitas manufaktur di St Athan, Wales Selatan. Secara historis, nilai saham perusahaan telah merosot tajam sejak melantai di bursa saham pada 2019, dibarengi dengan krisis inventaris diler dan tantangan produksi yang terus berlanjut.

Pihak perusahaan menjelaskan bahwa tarif perdagangan yang diberlakukan Donald Trump memperburuk masalah tersebut, menjadikan tahun 2025 sebagai salah satu tahun paling bergejolak dalam beberapa waktu terakhir. Perusahaan dipaksa untuk menavigasi lanskap kebijakan yang tidak terduga serta tantangan rantai pasokan yang berdampak pada volume, efisiensi, dan margin.

"Tahun ini membuat satu kenyataan menjadi tidak mungkin untuk diabaikan: bahkan merek mewah yang paling tangguh sekalipun tidak kebal dari gesekan geopolitik, dan hambatan yang tercipta dari rintangan perdagangan ini telah membentuk kembali lingkungan kompetitif dengan cara yang mengharuskan kami untuk beradaptasi dan mengambil keputusan sulit," tambah manajemen perusahaan.


(tps/sef) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Penjualan Mobil Malaysia Naik Kejar Pasar Indonesia