MARKET DATA
Internasional

Alarm Utang Dunia Berbunyi, Sudah Tembus Rp 5,5 Juta Triliun

Tommy Patrio Sorongan,  CNBC Indonesia
26 February 2026 15:40
Makin Agresif! China Siap Kudeta Amerika Jadi Raja Pemberi Utang RI
Foto: Ilustrasi Utang (Aristya Rahadian)

Jakarta, CNBC Indonesia - Total utang global dilaporkan melonjak ke rekor tertinggi sebesar US$ 348 triliun (Rp 5.501.031 triliun) pada akhir tahun 2025. Hal ini disebabkan penambahan utang hampir US$ 29 triliun (Rp 458.375 triliun) selama setahun tersebut, yang juga menjadi akumulasi lonjakan tercepat.

Institute of International Finance (IIF) dalam laporan Global Debt Monitor terbaru menyebutkan bahwa peningkatan ini terutama didorong oleh sektor pemerintah yang menyumbang lebih dari US$ 10 triliun (Rp 158.061 triliun) dari kenaikan tersebut. Amerika Serikat (AS), China, dan kawasan Euro bertanggung jawab atas sekitar tiga perempat dari lonjakan utang publik tersebut.

"Campuran kuat antara ekspansi fiskal, kebijakan moneter akomodatif, dan penyederhanaan regulasi yang lebih ringan dapat mendorong akumulasi utang lebih lanjut, sekaligus meningkatkan kekhawatiran tentang kenaikan leverage dan overheating di beberapa bagian pasar," ungkap IIF dalam laporannya dikutip Reuters, Kamis (26/2/2026).

Data menunjukkan siklus utang global saat ini tidak lagi didorong oleh rumah tangga atau perusahaan, melainkan oleh defisit fiskal yang persisten di negara-negara ekonomi besar. Meskipun jumlah nominal meningkat, rasio utang global terhadap PDB sedikit turun menjadi sekitar 308% pada tahun 2025 yang didorong oleh negara-negara maju, namun rasio utang di pasar negara berkembang (emerging markets) justru terus menanjak hingga mencetak rekor di atas 235% dari PDB.

Utang pemerintah secara global mencapai sekitar US$ 106,7 triliun (Rp 1.686.521 triliun) pada akhir tahun, naik signifikan dari US$ 96,3 triliun (Rp 1.522.115 triliun) pada akhir 2024. Sementara itu, utang korporasi non-finansial mencapai sekitar US$ 100,6 triliun (Rp 1.590.111 triliun) dan liabilitas rumah tangga naik lebih moderat menjadi US$ 64,6 triliun (Rp 1.021.096 triliun).

"Kondisi keuangan yang lebih longgar harus mendukung upaya memobilisasi modal yang sangat dibutuhkan untuk prioritas nasional, termasuk pembiayaan pertahanan. Gelombang baru supercycle pengeluaran modal global akan memperkuat momentum ini, dengan investasi skala besar pada pusat data berbasis AI, keamanan dan transisi energi, serta infrastruktur yang tangguh muncul sebagai mesin pertumbuhan utama bagi pasar utang global," tulis laporan IIF tersebut.

Pergeseran struktur utang ini menunjukkan bahwa sektor publik semakin mendominasi neraca global, yang membuat stabilitas ekonomi lebih terpapar pada perubahan suku bunga dan kepercayaan investor. Bulan Januari lalu mencatatkan salah satu periode tersibuk untuk penerbitan obligasi pemerintah secara global karena banyak negara bergegas mendanai kebutuhan anggaran di tengah permintaan investor yang masih kuat.

Meskipun pertumbuhan ekonomi global diproyeksikan stabil di angka 3,3% pada tahun 2026 menurut Dana Moneter Internasional (IMF), laju tersebut dinilai tidak cukup kuat untuk mengimbangi tumpukan utang yang terus meningkat. Jika peminjaman berlanjut pada kecepatan tahun 2025, rasio utang terhadap PDB berisiko melonjak kembali, terutama di pasar negara berkembang yang menghadapi beban pembiayaan kembali (refinancing) yang sangat besar.

IIF memperkirakan pasar negara berkembang menghadapi jatuh tempo utang lebih dari US$ 9 triliun (Rp 142.254 triliun) pada tahun 2026, sementara pasar negara maju menghadapi lebih dari US$ 20 triliun (Rp 316.121 triliun) obligasi dan pinjaman yang jatuh tempo. Kombinasi dari pinjaman publik yang tinggi dan kebutuhan rollover yang besar membuat tingkat utang dunia kemungkinan besar akan tetap berada di dekat rekor bersejarah.

"Selera risiko yang kuat telah mendukung penerbitan obligasi berimbal hasil tinggi, pinjaman leverage, hingga pasar IPO. Namun, pilihan kebijakan fiskal di masa mendatang akan menjadi penentu utama arah neraca keuangan dunia, terutama jika perusahaan-perusahaan terus mendanai belanja modal mereka melalui pasar obligasi di tengah defisit anggaran negara yang tetap lebar," tambah IIF.

(tps/sef) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Ngeri! Utang Global Pecah Rekor, Tembus Rp 5.639 Kuadriliun


Most Popular
Features