Internasional

Top! Putra Mahkota Raja Salman Beraksi, Arab 'Buang' Israel dari Ini

Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
Kamis, 26/02/2026 02:30 WIB
Foto: AP/Bandar Aljaloud

Jakarta, CNBC Indonesia - Arab Saudi berencana mengganti posisi Israel dengan Suriah, sebagai negara transit untuk proyek kabel serat optik yang dirancang untuk menghubungkan kerajaan tersebut ke Yunani melalui Laut Mediterania. Dua pejabat regional yang mengetahui proyek tersebut menyatakan bahwa desakan Riyadh untuk terhubung melalui Suriah menggarisbawahi pergeseran keselarasan regional saat mereka berupaya memperkuat posisi Damaskus sekaligus berpotensi mengisolasi Israel.

Langkah ini dilakukan di tengah ketegangan politik yang meningkat di kawasan tersebut. Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS), secara terbuka telah menuduh Israel melakukan genosida di Gaza, di mana lebih dari 72.000 warga Palestina tewas.

Selain itu, Riyadh juga terlibat perselisihan dengan Uni Emirat Arab (UEA). UEA kini menjadi mitra Arab terdekat Israel, dalam berbagai isu di Yaman, Sudan, hingga Laut Merah.

Konsultan kabel serat optik bawah laut yang berbasis di AS, Julian Rawle, mengonfirmasi adanya perubahan arah proyek strategis ini. Ia menjelaskan bahwa sebelumnya terdapat sejumlah proyek yang direncanakan melintasi Arab Saudi, Yordania, dan Israel, namun kini dinamikanya telah berubah seiring dengan situasi politik yang berkembang.


"Ada sejumlah proyek yang direncanakan melewati Arab Saudi, Yordania, dan Israel-ini adalah salah satunya," kata Julian Rawle dikutip Middle East Monitor, Kamis (26/2/2026).

"Permintaan Arab Saudi untuk transit melalui Suriah adalah hal baru. Orang-orang mencari rute darat tambahan antara Samudra Hindia dan Mediterania. Suriah adalah pilihan lain, jika orang merasa nyaman dengan situasi politik yang berkembang di sana," tambahnya.

Meskipun presentasi dari penyedia listrik Yunani, PPC, pada November 2025 belum menunjukkan keterkaitan Suriah dalam jaringan East to Med data Corridor (EMC), pejabat regional lainnya menyebutkan bahwa visi Arab Saudi melampaui sekadar data. Arab Saudi juga membayangkan proyek kabel listrik interkoneksi arus searah tegangan tinggi (HVDC) dengan Yunani yang melewati Israel dan lebih memilih jalur Suriah.

Seorang pejabat Barat yang memahami dorongan investasi Riyadh mengungkapkan bahwa bagi pemerintah Arab Saudi, Damaskus merupakan jantung dari konektivitas regional yang baru. Ambisi ini mencakup pembangunan infrastruktur fisik dan digital yang menempatkan Suriah sebagai titik transit utama di Timur Tengah.

"Bagi Arab Saudi, Damaskus berada di jantung konektivitas regional. Pihak Saudi menginginkan jalan raya, kabel, dan kereta api melewati Suriah," ungkap pejabat Barat tersebut.

Sebagai bentuk nyata dari komitmen ini, Saudi Telecom (STC) pada Februari lalu telah mengumumkan investasi sebesar US$ 800 juta (Rp 13,44 triliun) pada infrastruktur telekomunikasi Suriah. Kantor berita negara kerajaan tersebut menyatakan rencana tersebut bertujuan untuk menghubungkan Suriah secara regional dan internasional melalui jaringan serat optik yang membentang lebih dari 4.500 kilometer.

Pakar Teluk dari Baker Institute Universitas Rice, Kristian Coates Ulrichsen, menilai bahwa upaya ini adalah bagian dari strategi reintegrasi Suriah ke dalam lingkup regional. Menurutnya, proyek ini menunjukkan perubahan sikap Riyadh yang signifikan dibandingkan dengan tahun 2022 saat pembicaraan normalisasi dengan Israel sedang berada di puncaknya.

"Proyek seperti ini konsisten dengan upaya Saudi untuk mengintegrasikan kembali Suriah ke dalam lingkaran regional dan meminimalkan hubungan nyata apa pun dengan Israel. Tahun 2022 adalah puncak pembicaraan tentang normalisasi antara Arab Saudi-Israel. Ini adalah indikasi pergeseran sikap Riyadh," jelas Kristian Coates Ulrichsen.

Yunani sendiri saat ini sedang memposisikan diri sebagai pusat energi, real estat, dan Kecerdasan Buatan (AI) antara Eropa dan Timur Tengah. Meskipun Athena memiliki hubungan dekat dengan Israel sebagai sekutu melawan Turki, pergeseran rute oleh Arab Saudi ini dapat memberikan tantangan baru dalam hubungan diplomatik antara Yunani dan Israel jika negara tersebut benar-benar ditinggalkan dalam rute baru.

Proyek EMC ini merupakan kemitraan bersama antara STC, PPC Yunani, perusahaan telekomunikasi Yunani, dan perusahaan aplikasi satelit TTSA. Sejauh ini, bank-bank Yunani dan Arab Saudi telah menandatangani perjanjian untuk mendanai 60% dari proyek tersebut, dan kontrak pasokan telah ditandatangani dengan Alcatel Submarine Networks untuk pembangunan dua kabel data bawah laut dan darat.


(tps/tps) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Trump Kumpulkan 'Dewa Perang' Israel-Saudi, Mau Serang Iran?