Minyak Jelantah Jangan Dibuang Bunda, Bisa Dijual Rp5.000/Liter!
Jakarta, CNBC Indonesia - PT Pertamina Patra Niaga (PPN) mendorong keterlibatan masyarakat dalam penyediaan minyak jelantah, terutama untuk diolah menjadi Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bioavtur di Kilang Cilacap. Pasalnya, minyak jelantah mempunyai nilai ekonomis.
Corporate Secretary PT Pertamina Patra Niaga (PPN) Roberth M.V. Dumatubun membeberkan pengumpulan minyak jelantah ini telah memberikan dampak ekonomi. Mengingat, minyak jelantah yang didapat dari warga dihargai rata-rata Rp5.000 per liter sehingga menghasilkan omzet sekitar Rp20 juta per tahun.
"Pengumpulan minyak jelantah ini tak hanya mencegah pencemaran lingkungan, tapi juga menanamkan kebiasaan baru pada masyarakat, yakni memilah sampah sejak dari rumah. Gerakan ini juga mewujudkan kemandirian masyarakat, yang merupakan salah satu tujuan digelarnya program TJSL," ujar Roberth dalam keterangan tertulis, Selasa (24/2/2026).
Hingga saat ini setidaknya terdapat 4 kelompok mitra binaan yang bergerak di bidang lingkungan dan ikut berperan aktif dalam pengumpulan minyak jelantah.
Empat mitra binaan tersebut yakni, Bank Sampah Abhipraya di Kelurahan Kutawaru dan Bank Sampah Cahaya Asri di Kelurahan Tegalkamulyan yang beroperasi sejak Juli 2025, Bank Sampah Beo Asri di Kelurahan Tegalreja yang beroperasi sejak Oktober 2023 dan Komunitas Mom's Go Green yang beranggotakan istri pekerja dan pekerja perempuan di Kilang Cilacap, yang beroperasi sejak Januari 2024.
Adapun sepanjang 2025 lalu, lebih dari 4.300 liter minyak jelantah yang berhasil dikumpulkan. Rinciannya, Bank Sampah Abhipraya 73 liter, Bank Sampah Cahaya Asri 239 liter, Bank Sampah Beo Asri 1.586 liter dan Komunitas Mom's Go Green 2.428 liter.
Roberth menjelaskan, ribuan liter minyak jelantah itu dikumpulkan dari lebih 1.000 warga yang ada di Kelurahan Kutawaru, Kelurahan Tegalrera, Kelurahan Tegalkamulyan dan warga Komperta Lomanis, Gunung Simping, Katilayu.
Seperti diketahui, Kilang Cilacap adalah pelopor produsen energi hijau di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara. Puncaknya, pada Agustus 2025, PertaminaSAF pertama kali digunakan dalam penerbangan komersial maskapai Pelita Air rute Jakarta-Denpasar.
(ven) Add
source on Google