Internasional

Festival Telanjang Tiba-Tiba Jadi Tak Terkontrol, 6 Orang Terluka

Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
Selasa, 24/02/2026 07:40 WIB
Foto: Para pria membersihkan tubuh mereka di sungai selama Festival Sominsai di Kuil Kokuseki-ji di Oshu, Prefektur Iwate, Jepang, pada 17 Februari 2024. (Photo by Philip FONG / AFP)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sebanyak enam orang pria dilaporkan mengalami cedera akibat berdesak-desakan dalam penyelenggaraan festival Hadaka Matsuri tahun ini di Kuil Saidaiji Kannon, Okayama. Otoritas Jepang mengonfirmasi bahwa insiden tersebut terjadi di tengah kepadatan peserta yang mengikuti ritual adat tahunan tersebut.

Badan Manajemen Darurat Jepang melaporkan pada Senin (23/2/2026) waktu setempat bahwa tiga dari korban luka berada dalam kondisi serius dan sempat jatuh pingsan sekitar pukul 22.00 malam. Jatuhnya korban jiwa maupun luka ini terjadi saat lebih dari 10.000 peserta yang hampir telanjang merangsek masuk ke dalam area kuil secara bersamaan.

"Tiga dari korban luka berada dalam kondisi serius dan jatuh pingsan sekitar pukul 22.00 malam," tulis pernyataan resmi Badan Manajemen Darurat Jepang dalam laporannya dikutip Bangkok Post.


Hadaka Matsuri, atau yang dikenal sebagai Saidaiji Eyo, merupakan ritual berusia 500 tahun di mana para pria yang hanya mengenakan mawashi, cawat yang biasa digunakan pegulat sumo, saling berebut untuk mendapatkan tongkat kayu suci yang disebut Shingi. Pria yang berhasil mengamankan tongkat tersebut akan dinobatkan sebagai fukuotoko, atau "pria beruntung" tahun ini.

Sebelum acara utama dimulai, para peserta terlebih dahulu menyucikan diri dengan air sedingin es. Mereka kemudian memadati area kuil untuk menunggu Shingi yang dilemparkan dari lantai dua bangunan kuil tersebut.

"Saat lampu dipadamkan, tongkat-tongkat wangi dilemparkan ke arah kerumunan, memicu perebutan yang kacau saat ribuan orang berusaha menemukannya; aroma yang meresap pada tongkat tersebut dapat membantu para peserta menemukannya di tengah kegelapan," tulis laporan mengenai jalannya prosesi tersebut.

Benturan fisik yang intens di ruang terbatas tersebut dapat dengan cepat berubah menjadi situasi yang berbahaya bagi para peserta. Sebelumnya pada tahun 2007, tercatat seorang peserta meninggal dunia setelah terinjak-injak dalam kekacauan serupa di festival yang sama.

Meskipun festival ini dianggap sebagai tradisi warisan budaya yang penting, munculnya korban luka terbaru ini kembali memicu kekhawatiran mengenai pengendalian massa. Otoritas setempat kini menyoroti perlunya langkah-langkah keamanan yang lebih ketat untuk mencegah perayaan budaya tersebut berubah menjadi tragedi.


(tps/tps) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: TJ Tabrakan Diduga Sopir Mengantuk, Pemprov Evaluasi Jam Kerja