Perang Saudara Tetangga RI Makin Runyam, Komandan Pemberontak Membelot
Jakarta, CNBC Indonesia - Retaknya solidaritas di tubuh perlawanan bersenjata anti-junta di Myanmar kembali mencuat ke permukaan. Seorang komandan kelompok bersenjata independen yang sebelumnya dikenal vokal melawan militer justru dilaporkan menyerahkan diri kepada otoritas junta, memunculkan tanda tanya besar soal dinamika internal gerakan perlawanan.
Media pemerintah pada Kamis melaporkan bahwa Bo Nagar, pemimpin Burma National Revolutionary Army (BNRA), telah menyerahkan diri kepada otoritas militer Myanmar. Penyerahan diri itu terjadi di wilayah Sagaing bagian tengah atas, kawasan yang selama ini dikenal sebagai salah satu basis terkuat perlawanan bersenjata terhadap junta.
Menurut laporan surat kabar pemerintah, Myanma Alinn, Bo Nagar, yang juga dikenal dengan nama Naing Lin, bersama anggota keluarganya menghubungi kamp militer di Kotapraja Pale, Wilayah Sagaing, pada Rabu sore untuk "kembali ke pangkuan hukum." Media pemerintah turut menayangkan foto-foto Bo Nagar bersama sejumlah senjata yang diserahkannya.
Sejumlah laporan rinci dari media independen Myanmar menyebutkan bahwa Bo Nagar dan beberapa anggota keluarganya diterbangkan dengan helikopter militer dari markasnya di Sagaing tengah.
Surat kabar tersebut juga menegaskan bahwa pihak perlawanan lain yang menyerahkan diri "akan disambut dan diterima, diberikan bantuan dan dukungan yang diperlukan, serta imbalan tunai untuk setiap senjata dan amunisi."
Peristiwa ini menjadi pengingat dramatis atas keretakan di dalam gerakan perlawanan bersenjata Myanmar. Sejak militer merebut kekuasaan dari pemerintahan terpilih pimpinan Aung San Suu Kyi pada 2021, wilayah Sagaing berkembang menjadi benteng perlawanan.
Setelah demonstrasi damai dibubarkan dengan kekerasan mematikan, banyak penentang pemerintahan militer mengangkat senjata. Kini, sebagian besar wilayah negara itu terjerat dalam perang saudara.
Namun di tengah perjuangan melawan junta, konflik internal antar kelompok perlawanan kerap memicu bentrokan sporadis terkait perebutan wilayah dan perselisihan administratif.
Pelarian Bo Nagar terjadi setelah kelompoknya diserang unit People's Defense Force (PDF), yang berada di bawah komando nominal Pemerintah Persatuan Nasional (NUG), pemerintahan bayangan yang dibentuk oleh anggota parlemen terpilih yang digulingkan saat kudeta militer 2021.
Ketegangan antara pasukan BNRA pimpinan Bo Nagar dan unit-unit PDF setempat telah berlangsung sejak tahun lalu. BNRA dituduh melakukan pemerasan di pos-pos pemeriksaan jalan.
Ketegangan tersebut dilaporkan memuncak dua pekan lalu ketika, menurut pengakuan BNRA sendiri, seorang pejuang PDF tewas ditembak dalam perselisihan terkait senjata. Pada Selasa pekan lalu, PDF membalas dengan menyerbu posisi-posisi yang dikuasai BNRA.
Dalam pernyataannya, NUG mengeklaim konflik muncul setelah anggota BNRA menolak bekerja sama dalam penyelidikan atas dugaan tindak kriminal, termasuk pembunuhan anggota PDF dan kekerasan seksual. Pernyataan itu juga menyebut sekitar 150 anggota BNRA telah menyerahkan diri untuk bergabung dan bertugas bersama PDF.
Juru bicara NUG, Nay Phone Latt, mengatakan kepada The Associated Press pada Kamis bahwa pihaknya telah berupaya mengambil tindakan terkait laporan kejahatan yang dilakukan sejumlah anggota BNRA. Namun, menurutnya, Bo Nagar-yang disebutnya tampak terus menjalin kontak dengan militer-telah dibawa pergi oleh helikopter tentara.
"Kami telah menerima laporan tentang pemerkosaan anak dan kejahatan lainnya yang dilakukan oleh beberapa anggota BNRA, termasuk Bo Nagar," kata Nay Phone Latt, dikutip dari The Associated Press, Senin (23/2/2026).
Sejak dibawa ke dalam tahanan militer, Bo Nagar tidak dapat dihubungi untuk dimintai komentar.
Pada tahap awal perjuangan bersenjata pascakudeta, Bo Nagar dengan cepat naik daun sebagai salah satu pemimpin kunci perlawanan. Ia awalnya memimpin kelompok gerilya lokal bernama Myanmar Royal Dragon Army yang bersekutu dengan NUG dan menjadi salah satu target utama operasi militer junta.
Namun pada September 2023, ia membentuk kembali kelompoknya menjadi BNRA dan melonggarkan keterikatannya dengan pasukan PDF. Perubahan arah itu kini tampak berujung pada isolasi politik dan konflik terbuka dengan kelompok perlawanan lainnya, yang akhirnya berujung pada langkah dramatis menyerahkan diri kepada musuh yang dulu ia perangi.
(luc/luc) Add
source on Google