Pemerintah Guyur Cabai di Pasar Induk Kramat Jati, untuk Apa?

Martyasari Rizky, CNBC Indonesia
Senin, 23/02/2026 11:00 WIB
Foto: Pantauan harga pangan jelang Nataru di Pasar Rumput, Jakarta, Jumat (19/12/2025). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga cabai rawit merah melonjak tajam sepanjang Februari 2026 dan menjadi salah satu pemicu utama kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) di berbagai daerah. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kenaikan tersebut terjadi secara luas, baik dari sisi harga maupun jumlah wilayah terdampak.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan, hingga minggu ketiga Februari atau pencatatan sampai 20 Februari 2026, terdapat 230 kabupaten/kota yang mengalami kenaikan IPH, meningkat dibandingkan minggu sebelumnya sebanyak 199 daerah.

"Cabai rawit ini mengalami peningkatan yang tergolong cukup tinggi sekali," ujar Ateng dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026, disiarkan melalui kanal YouTube Kemendagri, Senin (23/2/2026).


BPS mencatat, pada minggu kedua Februari 2026 harga cabai rawit naik 19,89% dari Rp57.492 per kilogram (kg) menjadi Rp68.928 per kg. Kenaikan IPH cabai rawit terjadi di 59,44% wilayah Indonesia atau setara 214 kabupaten/kota, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya sebanyak 210 daerah.

Selain meluas secara wilayah, disparitas harga cabai rawit juga masih lebar. Harga terendah tercatat Rp23.000 per kg, sementara harga tertinggi menembus Rp200.000 per kg, terutama terjadi di wilayah Papua.

"Harga tertingginya sampai Rp200 ribu. Ini di Kabupaten Nduga," ucapnya.

Menanggapi lonjakan harga tersebut, Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementerian Pertanian (Kementan), Agung Sunusi menilai persoalan pasokan di sejumlah sentra menjadi salah satu penyebab. Ia menyebut, sebagian daerah memang sudah mulai panen, namun belum merata.

Foto: Materi paparan Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah tahun 2026, Senin (23/2/2026). (Tangkapan Layar Youtube/Kemendagri)
Materi paparan Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah tahun 2026, Senin (23/2/2026). (Tangkapan Layar Youtube/Kemendagri)

"Posisi kita alhamdulillah ada kurang lebih 21 kabupaten/kota yang cukup banyak panennya, khususnya untuk cabai rawit merah," ujar Agung dalam kesempatan yang sama.

Kementan juga mencatat gangguan panen di Lombok Timur akibat tidak adanya aktivitas pemetikan menjelang Ramadan, sehingga pasokan sempat tertahan.

"Khusus untuk Lombok Timur, kami sudah berkomunikasi dengan teman-teman di Lombok Timur, ada permasalahan yang mendasar yang menjadi kegiatan historikal di sana, dimana tiga hari sebelum puasa itu tidak ada aktivitas pemetikan. Sehingga itu, kami juga ada champion di sana, merasa kewalahan untuk terkait dengan pemetikan, dan mudah-mudahan insya Allah di satu minggu setelah puasa ini sudah normal kembali. itu yang kami komunikasi dengan champion," jelasnya.

Untuk meredam gejolak harga, Kementan bersama Badan Pangan Nasional (Bapanas) dan Satgas Pangan melakukan aksi guyur pasokan ke Pasar Induk Kramat Jati yang menjadi barometer harga nasional. Sebelumnya, pasokan ke pasar tersebut sempat turun drastis hingga hanya sekitar sembilan ton per hari.

"Kami sudah melakukan aksi guyur pasokan ke Pasar Induk Kramat Jati mulai 19 Februari," ujar dia.

Hingga kini, pasokan yang digelontorkan mencapai 4,38 ton dari champion binaan Kementan. Dalam skema tersebut, harga dari petani disepakati Rp50.000 per kg, Rp55.000 di pedagang pasar induk, dan diharapkan sampai ke konsumen di kisaran Rp60.000-Rp65.000 per kg.

"Sehingga paling tidak sampai konsumen itu di angka Rp60.000 sampai Rp65.000 per kg," katanya.

Pemerintah berharap, masuknya panen puncak di sejumlah sentra dalam dua pekan ke depan dapat memperkuat pasokan dan menekan harga cabai rawit secara bertahap.


(wur)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Stok Beras Aman Tapi Waspada Harga Cabai Rawit Naik di Nataru