Seorang penjual menata dagangannya di luar Masjid Pusat Lagos saat salat Jumat pada bulan suci Ramadan di Lagos, Nigeria, (20/2/2026). Di tengah suasana ibadah, umat Muslim di negara itu menghadapi tekanan krisis ekonomi dan lonjakan harga bahan pangan. Biaya hidup yang terus meningkat membuat kebutuhan pokok seperti beras, kacang-kacangan, dan sayuran kian sulit dijangkau, terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah. (REUTERS/Sodiq Adelakun)
Di pasar Abuja pada Jumat, seorang warga Sherifah Yunus-Olokodana terlihat membeli bahan makanan pokok dalam jumlah besar. Ia mengatakan inisiatifnya memberi makan warga kurang mampu lahir dari keprihatinan terhadap meningkatnya angka kelaparan di tengah tekanan ekonomi yang berkepanjangan. (Tangkapan Layar Video Reuters/)
Menurut Yunus-Olokodana, donasi yang ia kumpulkan berasal dari teman, keluarga, serta para dermawan dari dalam dan luar negeri. Mayoritas penyumbang adalah umat Muslim, namun dukungan juga datang dari non-Muslim yang turut prihatin terhadap kondisi sosial yang memburuk. (Tangkapan Layar Video Reuters/)
Upaya tersebut menjadi penopang sementara bagi keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Yang kami lakukan adalah memberi makan orang-orang yang membutuhkan selama bulan Ramadan, meskipun kami berharap dapat memberi makan mereka bahkan setelah Ramadan,” ujarnya, menekankan bahwa masalah pangan tidak berhenti setelah bulan suci berakhir. (Tangkapan Layar Video Reuters/)
Krisis ekonomi yang melanda Nigeria dalam beberapa waktu terakhir telah menekan daya beli masyarakat. Banyak warga mengeluhkan sulitnya memperoleh makanan bergizi, sementara harga bahan pokok terus meningkat. Pengacara Jubril Batula mendesak pemerintah untuk mengambil langkah lebih konkret guna mengatasi krisis ekonomi dan memastikan kebutuhan pangan masyarakat terpenuhi, terutama selama Ramadan. (Tangkapan Layar Video Reuters/)