RI Pangkas Batu Bara, Waspada China & India Siap Naikkan Produksi

Verda Nano Setiawan, CNBC Indonesia
Jumat, 20/02/2026 19:35 WIB
Foto: Aktivitas Bongkar Muat Batu Bara di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Senin (22/11/2021). (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Keputusan pemerintah memangkas target produksi batu bara dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 dinilai berpotensi memicu dinamika baru di pasar global, khususnya di kawasan Asia.

Chairman Indonesian Mining Institute Irwandy Arif menilai pengurangan pasokan dari Indonesia dapat mendorong dua konsumen terbesar batu bara Indonesia, yakni China dan India untuk mengandalkan cadangan domestik mereka.

Menurut dia, apabila pasokan dari Indonesia berkurang, kedua negara tersebut dinilai memiliki kemampuan untuk meningkatkan produksi domestik guna memenuhi kebutuhan dalam negeri.


"Untuk dua negara tadi China dan India itu mereka punya cadangan yang banyak, cukup banyak ya. Jadi kalau produksi mereka naikkan itu bisa memenuhi kebutuhan mereka," kata Irwandy dalam acara Mining Zone CNBC Indonesia, dikutip Jumat (20/2/2026).

Hal tersebut tentunya berpotensi menekan ketergantungan terhadap impor dari Indonesia. Meski demikian, ia mengingatkan kawasan Asia Pasifik, khususnya Asia, masih menjadi wilayah dengan jumlah PLTU berbasis batu bara terbesar di dunia.

"Nah jadi kebutuhan itu tetap ada. Nah kalau berkurang, pasti konsumen ini akan mencari jalan untuk memperoleh itu. Nah inilah yang saya katakan memerlukan waktu untuk kembali kepada keseimbangan antara supply and demand," kata Irwandy.

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil memberikan respons terkait permintaan berbagai pihak, khususnya untuk meninjau ulang pemangkasan kuota produksi nikel dan batu bara dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026.

Menurut Bahlil, keputusan tersebut sudah final. Mengingat, pemangkasan produksi dilakukan guna menjaga keseimbangan supply and demand agar harga komoditas tambang tetap terjaga di pasar global.

"Kita kan sudah memutuskan. Tim kan sudah, saya kan katakan supply and demand. Gimana kalau kita melakukan produksi yang banyak dengan harga yang jatuh," kata Bahlil usai acara Indonesia Economic Outlook di Gedung Danantara, Jakarta, dikutip Rabu (18/2/2026).

Ia lantas mengingatkan agar sumber daya alam milik negara tidak diobral begitu saja. Mengingat, pengelolaan tambang harus terukur dan berkesinambungan.

"Jangan harta negara kita dijual murah dong. Pengelolaan tambang ini kan harus berkesinambungan. Ada anak cucu kita juga yang harus melanjutkan bangsa ini ya," kata Bahlil.

Seperti diketahui, pemerintah berencana memangkas produksi batu bara pada 2026 menjadi sekitar 600 juta ton, atau berkurang sekitar 190 juta ton dibandingkan realisasi tahun 2025 yang mencapai 790 juta ton. Untuk bijih nikel, pembatasan produksi turun menjadi 250-260 juta ton dari RKAB 2025 sebesar 379 juta ton.


(wia)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Produksi Batu Bara Dipangkas, Penambang Pertanyakan Kriterianya