Jet Tempur AU Jatuh Saat Latihan, Satu Pilot Tewas
Jakarta, CNBC Indonesia - Sebuah jet tempur Angkatan Udara Iran jatuh saat latihan larut malam di Provinsi Hamadan, Iran bagian barat, menewaskan satu dari dua pilot di dalamnya. Insiden tersebut dikonfirmasi oleh penyiar pemerintah Iran, IRIB, pada Jumat (20/2/2026) waktu setempat.
Menurut IRIB, pesawat militer itu mengalami kecelakaan saat menjalani latihan rutin. "Penyebab kecelakaan sedang diselidiki," tulis IRIB dalam pernyataannya yang disampaikan melalui kanal Telegram resmi.
Belum ada keterangan rinci terkait jenis pesawat maupun kondisi pilot lainnya yang selamat. Otoritas militer Iran menyatakan penyelidikan masih berlangsung untuk memastikan faktor teknis maupun non teknis yang memicu jatuhnya pesawat tersebut.
Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, menyusul penambahan besar-besaran kekuatan militer Amerika Serikat di sekitar Iran. Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengerahkan kapal perang, jet tempur, dan peralatan militer lainnya ke kawasan tersebut dengan alasan mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir, tuduhan yang berulang kali dibantah Teheran.
Trump juga kembali melontarkan ancaman tindakan militer terhadap Iran. Pada Kamis lalu, ia mengatakan Teheran memiliki waktu maksimal 15 hari untuk mencapai kesepakatan.
"Jika tidak, Amerika Serikat akan bertindak," ujar Trump, mengisyaratkan kemungkinan serangan militer.
Menanggapi ancaman tersebut, Iran memperingatkan bahwa pangkalan dan aset Amerika Serikat akan menjadi sasaran jika Washington merealisasikan serangan. Peringatan itu disampaikan oleh Duta Besar Iran untuk PBB Amir Saeid Iravani dalam surat resmi kepada Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dan Presiden Dewan Keamanan PBB.
Dalam surat tersebut, Iravani mengutip pernyataan Trump di media sosial yang menyebut kemungkinan penggunaan pangkalan militer Inggris, termasuk satu pangkalan di Samudra Hindia, jika Iran menolak kesepakatan.
"Pernyataan agresif seperti itu menandakan risiko nyata agresi militer, yang konsekuensinya akan membawa malapetaka bagi kawasan dan menjadi ancaman serius bagi perdamaian serta keamanan internasional," tulis Iravani.
Ia juga mendesak Dewan Keamanan PBB untuk "memastikan bahwa Amerika Serikat segera menghentikan ancaman penggunaan kekuatan yang melanggar hukum."
Ketegangan antara kedua negara meningkat setelah upaya negosiasi sebelumnya gagal, yang kemudian diikuti serangan mendadak Israel ke Iran pada Juni lalu. Serangan tersebut memicu konflik selama 12 hari dan diikuti keterlibatan Amerika Serikat dalam pemboman sejumlah fasilitas nuklir Iran.
source on Google [Gambas:Video CNBC]