Transaksi Berjalan Berbalik Defisit di Akhir 2025, Ini Pemicunya!

haa, CNBC Indonesia
Jumat, 20/02/2026 12:20 WIB
Foto: Suasana aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (26/9/2024). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Neraca Pembayaran Indonesia menunjukkan transaksi berjalan pada Kuartal IV-2025 mengalami defisit US$ 2,5 miliar atau 0,7% dari PDB. Defisit transaksi berjalan ini membalikkan surplus US$ 4,0 miliar atau 1,1% dari PDB pada kuartal sebelumnya.

Jika dikaji dari laporan Bank Indonesia (BI), tampak neraca perdagangan nonmigas membukukan surplus lebih rendah dibandingkan dengan surplus pada kuartal sebelumnya, sejalan dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi global dan berlanjutnya kontraksi harga komoditas.


Di sisi lain, neraca perdagangan migas mencatat defisit yang lebih tinggi sejalan dengan peningkatan kegiatan ekonomi domestik. Defisit neraca jasa juga tercatat lebih tinggi disebabkan oleh penurunan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara pada triwulan IV 2025 dibandingkan dengan kondisi pada triwulan III-2025.

"Defisit neraca pendapatan primer meningkat dipengaruhi oleh kenaikan pembayaran dividen di akhir tahun. Sementara itu, surplus neraca pendapatan sekunder meningkat dipengaruhi oleh kenaikan remitansi Pekerja Migran Indonesia (PMI)," tulis BI dalam laporannya.

Kendati demikian, transaksi berjalan mencatat defisit yang rendah ditopang oleh berlanjutnya surplus neraca perdagangan barang di tengah neraca jasa dan pendapatan primer yang mengalami defisit. Dengan perkembangan tersebut, NPI pada kuartal IV-2025 mencatat surplus sebesar US$ 6,1 miliar.


(haa/haa)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Pertama Kali Dalam Sejarah RI, PDB Per Kapita Tembus USD 5.000