MARKET DATA
Internasional

5 Fakta Pertemuan Board of Peace: Prabowo Banjir Pujian-Sikap Israel

Lucky Leonard Leatemia & Tommy Patrio Sorongan,  CNBC Indonesia
20 February 2026 09:15
Presiden Prabowo Subianto dalam pertemuan perdana Board of Peace di Washington DC, Kamis (19/2/2026). (Getty Images via AFP/CHIP SOMODEVILLA)
Foto: Presiden Prabowo Subianto dalam pertemuan perdana Board of Peace di Washington DC, Kamis (19/2/2026). (Getty Images via AFP/CHIP SOMODEVILLA)
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Gelombang baru diplomasi perdamaian dunia mulai terlihat saat Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, secara resmi membuka pertemuan perdana Board of Peace (BoP) di Institute Perdamaian AS, Kamis (19/2/2026). Pertemuan ini menandai langkah konkret pemerintahan Trump dalam menyusun arsitektur keamanan baru, khususnya untuk penyelesaian konflik yang telah meluluhlantakkan kawasan Timur Tengah selama dua tahun terakhir.

Presiden RI Prabowo Subianto hadir sebagai salah satu tokoh sentral dalam forum tersebut, membawa posisi Indonesia sebagai jembatan stabilitas global.

Atmosfer pertemuan diwarnai dengan optimisme tinggi sekaligus tantangan besar mengenai implementasi teknis di lapangan, mulai dari komitmen pendanaan hingga pengerahan pasukan penjaga perdamaian internasional.

Berikut adalah 5 fakta lengkap terkait pertemuan perdana Board of Peace:

1. Komitmen Pendanaan Masif untuk Rekonstruksi

Pertemuan perdana ini menghasilkan komitmen finansial yang signifikan untuk memulihkan Jalur Gaza yang telah hancur total. Sembilan negara anggota, termasuk Kazakhstan, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Qatar, telah menjanjikan uang muka sebesar US$7 miliar (Rp117,6 triliun) untuk dana rekonstruksi. Angka ini dipandang sebagai langkah awal yang krusial bagi stabilitas wilayah.

Presiden Trump menegaskan bahwa investasi ini bukan sekadar bantuan kemanusiaan, melainkan instrumen politik untuk menciptakan harmoni. Dalam pidatonyo, Trump menyampaikan visi ambisiusnya mengenai penggunaan dana tersebut bagi masa depan kawasan.

"Setiap dolar yang dibelanjakan adalah investasi dalam stabilitas dan harapan akan wilayah yang baru dan harmonis," ujar Trump. "Board of Peace menunjukkan bagaimana masa depan yang lebih baik dapat dibangun tepat di ruangan ini."

Amerika Serikat sendiri mengambil peran pemimpin dengan menjanjikan kontribusi sebesar US$ 10 miliar (Rp 168 triliun), meskipun rincian penggunaannya masih akan dibahas lebih lanjut. Meski total komitmen ini sangat besar, para pengamat mengingatkan bahwa kebutuhan total untuk membangun kembali wilayah Palestina diperkirakan mencapai US$70 miliar (Rp1.176 triliun).

2. Pembentukan International Stabilization Force (ISF)

Salah satu poin paling progresif dalam pertemuan ini adalah kesepakatan pembentukan International Stabilization Force (ISF). Pasukan ini direncanakan akan dipimpin oleh seorang Jenderal AS dengan didampingi oleh Wakil Komandan dari Indonesia. Pasukan ini akan memulai operasinya di kota Rafah untuk melatih kepolisian baru dan memastikan gencatan senjata berjalan permanen.

Indonesia bersama Maroko, Kazakhstan, Kosovo, dan Albania telah menyatakan kesiapannya untuk mengirimkan personel militer. Kehadiran pasukan internasional ini dianggap sebagai kunci untuk mengisi kekosongan keamanan tanpa melibatkan faksi-faksi yang bertikai secara langsung di garis depan.

"Indonesia akan berkontribusi hingga 8.000 tentara untuk pasukan yang diusulkan guna membuat perdamaian ini berhasil," tegas Presiden Prabowo Subianto dalam forum tersebut.

Target akhir dari misi ini adalah menyiapkan 12.000 personel polisi dan menyiagakan total 20.000 tentara penjaga perdamaian. Selain pengerahan pasukan, negara tetangga seperti Mesir dan Yordania juga telah berkomitmen untuk memberikan pelatihan teknis bagi petugas kepolisian Palestina yang baru.

3. Posisi Israel dan Tuntutan Demiliterisasi

Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Sa'ar, yang hadir dalam pertemuan tersebut memberikan dukungan penuh terhadap rencana Trump, namun dengan catatan tegas mengenai keamanan nasional Israel. Bagi Israel, perdamaian hanya bisa terwujud jika akar permasalahan-yaitu terorisme dan doktrin kebencian-dihapuskan sepenuhnya dari masyarakat Palestina di Gaza.

Sa'ar menekankan bahwa demiliterisasi Jalur Gaza adalah harga mati yang tidak bisa ditawar dalam kerangka kerja Board of Peace. Israel menuntut pembongkaran seluruh infrastruktur teror, termasuk jaringan terowongan bawah tanah dan fasilitas produksi senjata yang selama ini digunakan untuk melawan mereka.

"Hamas harus dilucuti senjatanya. Itu mencakup semua senjatanya; infrastruktur terornya, jaringan terowongan bawah tanah, dan fasilitas produksi senjata semuanya harus dibongkar," kata Gideon Sa'ar dalam pidato resminya.

Lebih lanjut, Sa'ar menyatakan bahwa rencana Trump adalah proposal pertama yang benar-benar menyentuh akar permasalahan melalui proses deradikalisasi fundamental. Israel berharap agar institusi pendidikan dan keagamaan di Gaza tidak lagi digunakan sebagai tempat indoktrinasi kebencian terhadap warga Yahudi.

4. Respon Hamas dan Syarat Gencatan Senjata

Di sisi lain, Hamas memberikan respon yang sangat berhati-hati dan skeptis terhadap hasil pertemuan di Washington tersebut. Melalui juru bicaranya, Hazem Qassem, kelompok tersebut menyatakan bahwa efektivitas Board of Peace tidak akan diukur dari retorika di podium, melainkan dari kemampuan mereka menekan Israel untuk menghentikan pelanggaran.

Hamas berpendapat bahwa kehadiran pasukan internasional seharusnya berfungsi sebagai pemantau yang mencegah agresi Israel, bukan sekadar alat untuk melucuti senjata mereka. Mereka menegaskan bahwa selama pendudukan masih berlangsung dan hak-hak rakyat Palestina belum terpenuhi, stabilitas sejati sulit dicapai.

"Pengalaman beberapa bulan terakhir sejak gencatan senjata mulai berlaku menegaskan bahwa pendudukan (Israel) mengabaikan posisi seperti itu selama tidak disertai dengan tekanan nyata," ujar Hazem Qassem.

Terkait isu pelucutan senjata yang menjadi poin utama dalam rencana 20 poin Trump, Hamas tampak enggan berkomitmen secara langsung. Mereka menyatakan bahwa pembicaraan mengenai persenjataan mungkin saja dilakukan di masa depan, namun fokus utama saat ini haruslah pada bantuan kemanusiaan dan rekonstruksi tanpa tekanan militer sepihak.

5. Prabowo Banjir Pujian dari Donald Trump

Momen menarik terjadi ketika Presiden Trump secara terbuka memberikan pujian bertubi-tubi kepada Presiden Prabowo Subianto di depan para pemimpin dunia. Trump menyebut Prabowo sebagai sosok yang sangat ia sukai karena ketangguhan dan kecerdasannya dalam memimpin negara besar dengan populasi 240 juta jiwa (sebagaimana didiskusikan dalam dialog mereka).

Pujian ini tidak hanya bersifat personal, tetapi juga mencerminkan pengakuan AS terhadap posisi strategis Indonesia dalam menjaga stabilitas kawasan. Trump berkali-kali menyebut Indonesia sebagai "negara hebat" dan menghargai keputusan Prabowo untuk hadir langsung dalam inisiasi perdamaian ini.

"Lihat betapa tangguhnya dia (Prabowo). Menurutmu mudah berurusan dengannya? Lihat wajah itu, kamu memang tangguh. Dia tangguh dan cerdas. Dan, kecerdasan lebih penting," puji Trump sembari merujuk pada sosok Prabowo.

(tps) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Kesepakatan Dagang RI-AS Mundur Akibat Peluncuran Board of Peace


Most Popular
Features