MARKET DATA

Bos BI Sentil Bank Soal Special Rate Nasabah Besar, Masih Perlu Turun!

Robertus Andrianto,  CNBC Indonesia
19 February 2026 14:35
Konferensi pers Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulan Februari 2026. (Tangkapan layar Bank Indonesia)
Foto: Konferensi pers Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulan Februari 2026. (Tangkapan layar Bank Indonesia)

Jakarta, CNBC Indonesia - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengungkapkan, upaya penguatan transmisi terhadap suku bunga perbankan terus ditempuh. Kebijakan ini perlu dijalankan mengingat kalangan perbankan masih terus memberikan special rate atau suku bunga khusus yang tinggi untuk dana simpanan deposan besar.

Kondisi ini dipandang membuat suku bunga kredit dan dana pihak ketiga (DPK) sulit turun meski BI Rate sudah dipangkas 125 basis points (bps). BI mencatat penurunan suku bunga ini telah menekan suku bunga Indonesia hingga 212 poin menjadi 3,92% pada 18 Februari 2026.

Sementara itu, Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) tenor 6, 9, 12 bulan masing-masing turun 225 basis poin (bps), 227 bps, 223 bps menjadi 4,91%, 4,93% dan 5,04% pada Februari 2026. Kemudian, imbal hasil SBN tenor 2 dan 10 tahun tercatat turun ke 5,06% dan 6,38%.

"Transmisi perbankan namun lebih terbatas, suku bunga deposito baru turun 65 bps dari 4,81% pada Januari 2025 menjadi 4,13% pada Januari 2026. Upaya mengurangi special rate masih menjadi 26,42% dari total DPK perlu dilanjutkan penurunannya," tegas Perry.

Special rate adalah suku bunga yang diberikan bagi para deposan besar di perbankan. Jika penurunan suku bunga perbankan ini ditransmisikan ke kredit baru, maka penurunannya baru mencapai 40 bps menjadi 8,8% pada Januari 2026.

"Ke depan upaya perlu ditingkatkan agar mendorong pertumbuhan kredit lebih tinggi, ujar Perry.

(haa/haa) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Purbaya Ramal Ekonomi Kuartal IV-2025 di Atas 5,5%


Most Popular
Features