09:40
Video: BPJamsostek:Pekerja Informal Ojol-Freelancer Naik 40% per Tahun
Jakarta, CNBC Indonesia- Direktur Pengembangan BPJamsostek, Edwin Ridwan mengungkapkan sejumlah sentimen yang menjadi mempengaruhi arah dan strategi alokasi di 2026.
Edwin Ridwan mengatakan volatilitas IHSG di tengah sentimen global dan domestik, salah satunya terkait ketegangan geopolitik yang dapat menahan berlanjutnya tren pemangkasan suku bunga acuan bank sentral. Menghadapi ini, BPJamsostek tidak mengambil aset investasi bertenor panjang.
Saat ini portofolio BPJamsostek terdiri atas 75% ada di instrumen fixed income utamanya SBN dengan tenor menengah serta sisanya di saham dan mutual fund 12% serta 10% di deposito. DImana penempatan aset alokasi BPJasmsostek didasarkan atas profil liabilitas.
BPJamsostek mencatat saat ini sekitar 50 juta pekerja aktif di BPJamsostek dengan 1/3 masuk Segmen Pekerja Bukan Penerima Upah (BPU) yang tercatat terus tumbuh hingga 30-40% per Tahun namun masih banyak yang belum ikut BPJamsostek sehingga perlu ditingkatkan.
Per Desember 2025, BPJamsostek berhasil menerima iuran Rp 113,5 Triliun atau naik 8% (yoy) dengan pembayaran manfaat klaim Rp 68,24 triliun atau naik 19,4% (yoy). Di 2026, BPJamsostek memperkirakan penerimaan iuran sebesar Rp 118 triliun dengan klaim dibayar diramal meningkat ke Rp 78,4 Triliun.
Seperti apa strategi investasi BPJamsostek? Selengkapnya simak dialog Syarifah Rahma dengan Direktur Pengembangan BPJamsostek, Edwin Ridwan dalam Power Lunch, CNBC Indonesia (Rabu, 18/02/2026)