Bukan Iran, Trump Mendadak Terjunkan Pasukan AS untuk Perang di Sini
Jakarta, CNBC Indonesia - Sekitar 100 personel militer Amerika Serikat (AS) beserta peralatan mereka telah tiba di Nigeria untuk membantu melatih tentara negara Afrika Barat tersebut, di tengah upaya pemerintah menghadapi kelompok militan Islam dan berbagai kelompok bersenjata lainnya. Pengumuman ini disampaikan militer Nigeria pada Senin (16/2/2026) waktu setempat.
Dalam pernyataan resminya, sebagaimana dilansir The Associated Press, militer Nigeria menyebut kedatangan pasukan AS itu merupakan tindak lanjut dari permintaan pemerintah Nigeria kepada Washington untuk bantuan pelatihan, dukungan teknis, serta kerja sama pertukaran intelijen.
Penempatan pasukan ini terjadi setelah meredanya ketegangan antara AS dan Nigeria, yang sempat memanas ketika Presiden AS Donald Trump menuduh Nigeria tidak melindungi warga Kristen dari apa yang ia sebut sebagai genosida.
Pemerintah Nigeria secara tegas membantah tuduhan tersebut. Sejumlah analis juga menilai pernyataan Trump menyederhanakan situasi yang sangat kompleks, di mana warga kerap menjadi target kekerasan tanpa memandang agama.
Juru bicara Markas Besar Pertahanan Nigeria Mayor Jenderal Samaila Uba sebelumnya menegaskan bahwa pasukan AS tidak akan terlibat langsung dalam pertempuran atau memiliki peran operasional di lapangan. Ia mengatakan komando penuh tetap berada di tangan militer Nigeria.
Pada Desember lalu, pasukan AS melancarkan serangan udara terhadap militan yang berafiliasi dengan kelompok Negara Islam di wilayah barat laut Nigeria. Sebulan kemudian, setelah serangkaian pembicaraan dengan otoritas Nigeria di Abuja, kepala Komando Afrika AS mengonfirmasi bahwa tim kecil perwira militer AS sudah berada di Nigeria untuk fokus pada dukungan intelijen.
Nigeria saat ini menghadapi konflik berkepanjangan dengan puluhan kelompok bersenjata lokal yang saling berebut wilayah. Di antaranya terdapat kelompok Islam bersenjata seperti Boko Haram dan faksi pecahannya, Islamic State West Africa Province. Selain itu, ada pula kelompok yang terafiliasi dengan IS seperti Lakurawa, serta berbagai kelompok bandit yang dikenal melakukan penculikan untuk tebusan dan penambangan ilegal.
Dalam beberapa waktu terakhir, krisis keamanan makin memburuk dengan masuknya militan dari kawasan Sahel, termasuk Jama'at Nusrat al-Islam wal-Muslimin, yang mengeklaim serangan pertamanya di wilayah Nigeria tahun lalu.
Data Perserikatan Bangsa-Bangsa menunjukkan bahwa ribuan orang telah tewas akibat konflik bersenjata ini. Para analis menilai pemerintah belum melakukan cukup banyak langkah untuk melindungi warganya.
Meski warga Kristen termasuk di antara korban kekerasan, para analis dan penduduk lokal menyebut mayoritas korban justru adalah Muslim, terutama di wilayah utara Nigeria yang mayoritas penduduknya beragama Islam dan menjadi lokasi utama serangan kelompok bersenjata.
(luc/luc)