MARKET DATA
Internasional

Terungkap, Tangan Kanan Donald Trump Mau Gulingkan Paus

Verda Nano Setiawan ,  CNBC Indonesia
16 February 2026 19:45
Paus Fransiskus berbicara selama wawancara eksklusif dengan Reuters, di Vatikan, Sabtu (2/7/2022). (REUTERS/Remo Casilli)
Foto: Paus Fransiskus berbicara selama wawancara eksklusif dengan Reuters, di Vatikan, Sabtu (2/7/2022). (REUTERS/Remo Casilli)

Jakarta, CNBC Indonesia - Dokumen terbaru yang dirilis oleh Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) mengungkap adanya komunikasi antara mantan penasehat Gedung Putih era Presiden Donald Trump, yakni Steve Bannon dengan terpidana pelaku kejahatan seksual Jeffrey Epstein.

Adapun, dalam dokumen tersebut, terungkap percakapan yang membahas upaya untuk menjatuhkan Paus Fransiskus. Percakapan yang terjadi pada 2019 tersebut menunjukkan bahwa Bannon secara aktif mencari dukungan Epstein untuk melemahkan pengaruh pemimpin Gereja Katolik.

"Akan menjatuhkan (Paus) Fransiskus," tulis Bannon kepada Epstein pada Juni 2019.

Berdasarkan salah satu pesan yang kini menjadi bagian dari dokumen yang dipublikasikan, Bannon menulis ke Epstein bahwa ia akan menjatuhkan Paus Fransiskus, sembari menyebut sejumlah tokoh dan kekuatan global lain yang dianggapnya sebagai lawan politik.

"Keluarga Clinton, Xi, Fransiskus, Uni Eropa - ayolah saudaraku," mengutip CNN International, Senin (16/2/2026).

Komunikasi tersebut berlangsung setelah Bannon keluar dari pemerintahan Trump. Bannon selama ini dikenal sebagai pengkritik keras Paus Fransiskus.

Ia menilai pemimpin Vatikan tersebut bertentangan dengan agenda sovereigntist yang diusungnya, dimana sebuah gerakan populisme nasionalis yang menguat di Eropa pada 2018-2019.

Dalam berbagai kesempatan, Bannon juga menuduh Paus berpihak pada elit global dan menjadi penghalang bagi proyek politiknya.

Dokumen DOJ memperlihatkan ketertarikan Bannon menggunakan buku kontroversial karya jurnalis Prancis Frédéric Martel, In the Closet of the Vatican, sebagai alat untuk mempermalukan Paus.

Dalam pesannya dengan Epstein, Bannon merujuk pada "In the Closet of the Vatican," sebuah buku tahun 2019 karya jurnalis Prancis Frédéric Martel yang membuka tabir kerahasiaan dan kemunafikan di tingkat tinggi gereja.

Martel menciptakan kehebohan dengan bukunya dengan mengklaim bahwa 80% pendeta yang bekerja di Vatikan adalah gay, sembari mengeksplorasi bagaimana mereka merahasiakan seksualitas mereka.

Bannon menunjukkan ketertarikannya untuk mengubah buku Martel menjadi sebuah film setelah bertemu dengan penulisnya di sebuah hotel bintang lima di Paris. Dalam pesan-pesannya, Bannon tampaknya menyarankan agar Epstein menjadi produser eksekutif film tersebut.

"Anda sekarang menjadi produser eksekutif 'ITCOTV' (Di dalam lemari Vatikan)," tulis Bannon.

Tidak dijelaskan seberapa serius proposal dari Bannon kepada Epstein. Epstein juga tidak menyebutkan tawaran tersebut dan bertanya tentang Bannon yang akan memfilmkan Noam Chomsky, filsuf dan intelektual publik.

Martel mengatakan bahwa ketika ia bertemu Bannon di Hotel Le Bristol, ia mengatakan kepadanya bahwa ia tidak dapat menyetujui kesepakatan film apapun karena penerbitnya mengendalikan hak film tersebut dan telah menandatangani kesepakatan dengan perusahaan lain.

Biografer Paus Fransiskus, Austen Ivereigh, menilai Bannon salah membaca isi buku tersebut dan karakter Paus. Menurutnya, upaya itu merupakan bagian dari strategi untuk merusak reputasi pemimpin Gereja dengan dalih "memurnikan" institusi.

"Saya pikir dia salah menilai sifat buku itu - dan Paus Fransiskus," kata Ivereigh kepada CNN.

Sementara itu, pejabat Vatikan yang dekat dengan Paus Fransiskus, Pastor Antonio Spadaro, mengatakan isi pesan tersebut menunjukkan ambisi menggabungkan otoritas spiritual dengan kekuatan politik.

Hal itu, kata dia, justru berlawanan dengan sikap Paus yang selama masa kepemimpinannya menolak menjadikan agama sebagai alat politik.

Mendiang Paus, jelas Spadaro, menolak hubungan semacam itu.

"Apa yang diungkapkan oleh pesan-pesan itu bukan hanya permusuhan terhadap paus, tetapi upaya yang lebih dalam untuk menginstrumentalisasi iman sebagai senjata tepatnya godaan yang ingin dilucuti oleh Paus," sebutnya.

Relasi Bannon dengan Vatikan sendiri cukup panjang. Ia pernah mendirikan biro media di Roma saat memimpin Breitbart News dan terlibat dalam upaya mendirikan lembaga pelatihan politik bagi gerakan populis di sebuah biara tua di Italia.

Proyek itu memicu kontroversi dan sempat kehilangan dukungan dari sejumlah tokoh konservatif Gereja.

Berkas yang sama juga mengungkap bahwa komunikasi Bannon dengan Epstein berlangsung bertahun-tahun setelah Epstein divonis dalam kasus kejahatan seksual terhadap anak dan tidak lama sebelum ia kembali ditangkap atas tuduhan perdagangan seks terhadap anak di bawah umur.

Paus Fransiskus, di sisi lain, selama masa kepemimpinannya dikenal sebagai salah satu pengkritik nasionalisme sempit dan vokal dalam membela migran posisi yang membuatnya berseberangan dengan arus populisme yang berkembang di Amerika Serikat dan Eropa saat itu.

Burke juga digambarkan dengan cara yang tidak menyenangkan dalam buku Martel. Perpecahan Burke dengan Bannon terjadi ketika ia memutuskan hubungan dengan Dignitatis Humanae, sebuah lembaga konservatif yang didirikan oleh Benjamin Harnwell, seorang penasihat politik Inggris dan rekan dekat Bannon yang berbasis di Italia.

Namun keinginan Bannon untuk membuat film dari buku Martel membuatnya kehilangan sekutu di Vatikan. Kardinal Raymond Burke, seorang kritikus konservatif terkemuka terhadap Fransiskus, mengatakan "Saya sama sekali tidak berpikir bahwa buku itu harus dibuat menjadi sebuah film."

Di tempat lain dalam file tersebut, Epstein bercanda dengan saudaranya, Mark, tentang mengundang Paus Fransiskus ke kediamannya untuk "dipijat" selama kunjungan kepausan AS pada tahun 2015. Tiga tahun kemudian, dia mengirim pesan kepada Bannon untuk mengatakan bahwa dia mencoba "mengatur perjalanan untuk paus ke Timur Tengah," dan menambahkan "judulnya - toleransi."

Ketika Bannon berbagi dengan Epstein sebuah artikel tentang Vatikan yang mengutuk "nasionalisme populis," Epstein mengutip puisi alkitabiah John Milton "Paradise Lost," ketika Setan diusir dari surga.

"Lebih baik memerintah di Neraka, daripada melayani di Surga," kata Epstein kepada Bannon.

Hingga kini, perwakilan Bannon belum memberikan tanggapan resmi atas temuan dalam dokumen DOJ tersebut. Sementara itu, Donald Trump berulang kali membantah memiliki keterlibatan dalam kejahatan yang terkait dengan Epstein.

(ayh/ayh)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Video: Demi Ballroom Mewah, Trump Bongkar Sayap Timur Gedung Putih


Most Popular
Features