Kapal induk kelas Nimitz Angkatan Laut AS USS Abraham Lincoln, kapal perusak rudal berpemandu kelas Arleigh Burke USS Frank E. Petersen Jr., dan kapal kargo kering kelas Lewis and Clark USNS Carl Brashear berlayar selama latihan di perairan Arab. (Handout via REUTERS)
Gambar-gambar yang dirilis pada Minggu, 15 Februari, menampilkan kekuatan militer Amerika Serikat yang siaga dan terkoordinasi, seolah menjadi pesan visual tentang kesiapan menghadapi kemungkinan konflik yang lebih panjang. (Handout via REUTERS)
Di balik pemandangan itu, tersimpan perencanaan serius: militer AS bersiap untuk kemungkinan operasi berkelanjutan selama berminggu-minggu terhadap Iran apabila Presiden Donald Trump memerintahkan serangan, menurut keterangan dua pejabat AS kepada Reuters. (Handout via REUTERS)
Pengungkapan yang disampaikan secara anonim itu menambah ketegangan di tengah jalannya diplomasi yang rapuh antara Washington dan Teheran. Di satu sisi, kapal-kapal perang, pesawat tempur, dan ribuan pasukan dikumpulkan di kawasan Timur Tengah; di sisi lain, pintu perundingan masih terbuka, seolah dua jalur berbeda berjalan berdampingan secara militer dan diplomasi. (Handout via REUTERS)
Di tengah suasana tersebut, Trump secara terbuka mengemukakan kemungkinan mengganti pemerintahan di Iran, sebuah pernyataan yang menambah kerasnya tekanan politik. (Handout via REUTERS)
Dimintai komentar tentang persiapan untuk operasi militer AS yang berpotensi berkelanjutan, juru bicara Gedung Putih Anna Kelly mengatakan: "Presiden Trump memiliki semua opsi yang tersedia terkait dengan Iran." (Handout via REUTERS)
Upaya dialog dijadwalkan berlangsung di Jenewa. Utusan AS Steve Witkoff dan Jared Kushner bersiap bertemu dengan perwakilan Iran, dengan Oman bertindak sebagai mediator. Namun suasana penuh kehati-hatian menyelimuti proses tersebut. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio memperingatkan bahwa meskipun Presiden Trump lebih memilih mencapai kesepakatan dengan Teheran, jalan menuju kesepahaman terasa sangat sulit. (Handout via REUTERS)