Di Depan Lembaga Asing, Airlangga Beberkan Data Ekonomi RI Terkini

Robertus Andrianto, CNBC Indonesia
Jumat, 13/02/2026 15:10 WIB
Foto: Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat menyampaikan laporan dalam Indonesia Economic Outlook 2026 di Gedung Danantara, Jakarta, Jumat (13/2/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah resmi menggelar acara Indonesia Economic Outlook 2026 yang digelar di markas Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, dan dihadiri Presiden Prabowo Subianto beserta jajaran Kabinet Merah Putih.

Dalam momen itu,Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, acara ini turut dihadiri oleh berbagai perwakilan duta besar negara sahabat, hingga lembaga jasa keuangan asing, termasuk lembaga pemeringkat atau rating agency.

"Mohon maaf Pak Presiden, the invitation is only less than 15 hours, and all attended," kata Airlangga saat membuka acara, Jumat (13/2/2026).


Saat membuka acara, Airlangga mengungkapkan kondisi perekonomian Indonesia sepanjang tahun lalu. Ia menyebut, saat pertumbuhan ekonomi global stagnan di kisaran 3%, perekonomian Indonesia justru tumbuh 5,11% sepanjang 2025, dan pada kuartal IV-2025 mencapai 5,39%.

"Di antara G20 di Kuartal IV itu kita nomor dua sesudah India," ucap Airlangga.

Airlangga mengatakan, percepatan pertumbuhan ekonomi itu ditopang oleh konsumsi masyarakat yang tumbuh 4,98%, konsumsi Lembaga Nonprofit yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT) 5,09%, hingga belanja modal pemerintah 44,2%.

"Belanja pemerintah, stimulus, berperan menjaga permintaan domestik dan shock absorber risiko perlambatan ekonomi," tuturnya.

Kinerja ekspor Indonesia pun kata dia masih mampu menopang geliat perekonomian tanah air dengan pertumbuhan 7,03%. Diikuti dengan masih besarnya kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia dengan pertumbuhan 10%.

Berdasarkan sektor usaha, ia menyebut, pertumbuhan juga merata di banyak industri. Industri pertanian hingga industri pengolahan ia sebut mampu tumbuh di atas 5%, dengan kisaran 5,03%.

Dengan laju pertumubuhan ekonomi yang makin cepat, pemerintah kata dia juga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, ditandai dengan tingkat kemiskinan yang turun ke level 8,25%, dan indikator ketimpangan yakni gini ratio ke level 0,36%.

"Ini menunjukkan pemerataan kesejahteraan. Tingkat pengangguran terbuka pun 7,47% dengan serapan tenaga kerja 2,71 juta orang," tegas Airlangga.

Terlepas dari itu semua, Airlangga meyakinkan dalam acara itu bahwa Indonesia menatap pertumbuhan lebih cepat di 2026, didukung oleh berbagai program prioritas yang akan menjadi sumber pertumbuhan dan penyerapan tenaga kerja.

"Untuk mencapai target pertumbuhan 8% kita perlu reformasi struktur secara terus menerus, seperti pesawat mau take off," papar Airlangga.

"Pelaku usaha, industri dan Danantara jadi engine. Kebijakan dan sistem keuangan yang lebih dalam menjadi mesin dari demand belanja masyarakat dan eksport," tegasnya.


(arj/mij)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Jawab Moody's, RI Bakal Gelar Indonesia Economic Outlook