MARKET DATA
Internasional

AS-Taiwan Sepakati Tarif Baru, Taipei Janji Beli Miliaran Barang AS

tfa,  CNBC Indonesia
13 February 2026 06:40
Supporters of Han Kuo-yu, Taiwan's 2020 presidential election candidate for the KMT or Nationalist Party, cheer with their national flag during a campaign rally in Taipei, Taiwan, Thursday, Jan. 9, 2020. Taiwan will hold its presidential election on Jan. 11. (AP Photo/Ng Han Guan)
Foto: Bendera Taiwan (AP/Ng Han Guan)

Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) dan Taiwan resmi menandatangani perjanjian perdagangan yang menurunkan tarif impor AS atas produk Taiwan sekaligus mematok komitmen pembelian barang-barang dari Amerika hingga 2029.

Perjanjian yang diumumkan oleh kantor Perwakilan Perdagangan AS (USTR) pada Kamis (12/2/2025) itu memformalkan pengurangan tarif AS terhadap ekspor Taiwan dari 20% menjadi 15% dan mengurangi atau menghapus hampir seluruh tarif Taiwan terhadap barang-barang AS.

"Perjanjian ini akan menghapus hambatan tarif dan non-tarif yang dihadapi ekspor AS ke Taiwan," ujar Perwakilan Perdagangan AS Jamieson Greer, seperti dikutip AFP. "Ini juga akan secara signifikan meningkatkan ketahanan rantai pasokan kita, khususnya di sektor teknologi tinggi."

Dalam lembar fakta USTR disebutkan Taiwan menjadwalkan kenaikan pembelian barang-barang AS hingga 2029, termasuk: US$44,4 miliar (sekitar Rp741 triliun) gas alam cair dan minyak mentah, US$15,2 miliar (Rp254 triliun) pesawat sipil dan mesinnya, serta US$25,2 miliar (Rp421 triliun) peralatan listrik dan jaringan.

Greer menambahkan bahwa kesepakatan ini akan memperluas peluang ekspor bagi petani, nelayan, pekerja, dan produsen AS.

"Ini membangun hubungan ekonomi jangka panjang kami dengan Taiwan," katanya.

Taiwan sendiri berkomitmen memangkas sebagian besar hambatan tarif dan memberikan akses pasar preferensial untuk produk industri dan pertanian AS. Namun, perjanjian ini tetap harus disetujui oleh badan legislatif Taiwan sebelum efektif.

Kesepakatan ini dipandang sebagai langkah strategis kedua negara untuk memperkuat hubungan ekonomi sekaligus mengurangi ketergantungan pada rantai pasokan global yang rapuh di tengah ketegangan geopolitik di kawasan.

(tfa/tfa)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Xi Jinping Ngamuk Trump Kirim 'BBM Perang Asia' di Depan Muka China


Most Popular
Features