Ini Sultan Dubai di Email Epstein, Sebut "Suka Video Penyiksaan"
Jakarta, CNBC Indonesia - Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) mengungkap identitas sosok yang diduga menjadi penerima email kontroversial mendiang terpidana kejahatan seksual Jeffrey Epstein. Di dalamnya merujuk pada sebuah kalimat "video penyiksaan".
Nama yang disebut adalah Sultan Ahmed bin Sulayem. Ia menjadi salah satu dari enam wajah baru di Epstein Files yang dibuka DOJÂ AS sejak bulan lalu.
Lalu Siapa Dia?
Sultan Ahmed bin Sulayem adalah tokoh bisnis paling berpengaruh di Uni Emirat Arab (UEA). Ia pun menjadi ketua sekaligus CEO DP World.
Pengungkapan ini muncul setelah anggota Kongres AS Thomas Massie dan Ro Khanna meninjau dokumen Epstein versi tidak disensor di DOJ, Senin waktu setempat. Keduanya kemudian mengunggah tangkapan layar email tersebut ke platform X.
Dalam email itu, Epstein menulis kepada penerima yang sebelumnya disensor. Berbunyi "Di mana kamu? Apakah kamu baik-baik saja, aku menyukai video penyiksaan itu".
Balasan email kemudian juga diposting. Berbunyi "Saya berada di China, saya akan berada di AS pada minggu kedua bulan Mei".
Satu diantara kedua anggota Kongres, Massie, lalu menuliskan keterangan bahwa "Seorang Sultan tampaknya telah mengirimkan ini". Ia mendesak DOJ membuka identitas pihak terkait.
Pernyataan itu kemudian ditanggapi Wakil Jaksa Agung AS Todd Blanche. "Penyensoran tersebut bertujuan melindungi informasi identitas pribadi dalam alamat email," ujar Blanche melalui X, seperti dikutip CNBC International, Kamis (12/2/2026).
Ia menambahkan bahwa nama Sultan Ahmed bin Sulayem muncul tanpa sensor di bagian lain berkas DOJ. Ia pun mengatakan dia terhubung dengan dokumen yang memuat namanya.
Klarifikasi itu, kemudian kembali ditanggapi Massie. Ia menyatakan Blanche telah "secara diam-diam mengakui bahwa Sultan Ahmed bin Sulayem adalah pengirim video penyiksaan tersebut".
Hingga kini, Sultan Ahmed bin Sulayem tidak dituduh melakukan pelanggaran pidana apa pun. Bahkan, tidak ada kejelasan mengenai isi sebenarnya dari "video penyiksaan" yang dimaksud maupun apakah video tersebut benar-benar dikirim oleh Sultan Ahmed bin Sulayem kepada Epstein.
Otoritas AS juga menegaskan bahwa penyebutan nama dalam berkas Epstein tidak serta-merta membuktikan keterlibatan kriminal. Belum ada kepastian hubungan dengan daftar klien Epstein.
Sebenarnya, berkas DOJ menunjukkan hubungan komunikasi yang intens antara Epstein dan Sultan Ahmed bin Sulayem selama lebih dari satu dekade, sejak sekitar 2007 hingga 2019. Termasuk setelah Epstein dihukum pada 2008 atas kasus prostitusi anak di bawah umur.
Dalam sejumlah dokumen, Epstein menyebut Sultan Ahmed bin Sulayem sebagai "teman dekat" dan "orang kepercayaan". Email-email tersebut mencakup pembahasan bisnis, politik, hingga percakapan pribadi bernuansa seksual. Keduanya juga kerap membicarakan pertemuan langsung, termasuk di Little St. James, pulau pribadi Epstein di Kepulauan Virgin AS yang disebut jaksa sebagai basis perdagangan seks.
Sosok Kunci di Dubai
Di Dubai, Sultan Ahmed bin Sulayem dikenal sebagai arsitek kebangkitan ekonomi emirat tersebut. Ia berperan besar dalam pengembangan Pelabuhan Jebel Ali dan ekspansi DP World menjadi raksasa logistik global yang menangani sekitar sepersepuluh perdagangan kontainer dunia.
Ia juga pernah memimpin Nakheel Properties, pengembang proyek pulau buatan ikonik Dubai, sebelum mundur di tengah restrukturisasi Dubai World pasca krisis keuangan global 2008. Posisinya menjadikan Sultan Ahmed bin Sulayem figur penting dalam diplomasi ekonomi UEA, dengan kehadiran rutin di forum internasional seperti World Economic Forum di Davos.
Sementara itu, meski belum ada langkah hukum, dampak reputasional mulai muncul. Dana pensiun terbesar kedua di Kanada menyatakan akan menghentikan kesepakatan baru dengan DP World Dubai.
"Kami telah memperjelas kepada perusahaan bahwa kami mengharapkan mereka menjelaskan situasi ini dan mengambil tindakan yang diperlukan," ujar perwakilan dana pensiun tersebut.
DP World juga belum memberikan keterangan apakah akan mengambil langkah terkait posisi Sultan Ahmed bin Sulayem. Sementara itu, UN Women mengonfirmasi bahwa mereka tidak lagi memiliki kemitraan atau kolaborasi aktif dengan Sultan Ahmed bin Sulayem maupun DP World sejak program HeForShe berakhir pada Desember 2024.
"UN Women saat ini tidak memiliki kemitraan atau kolaborasi dengan Sultan Ahmed bin Sulayem atau DP World," kata juru bicara UN Women.
Pengungkapan terbaru ini menambah sorotan terhadap jejaring global Jeffrey Epstein, yang selama bertahun-tahun menjalin hubungan dengan tokoh-tokoh berpengaruh di bisnis dan politik dunia.
[Gambas:Video CNBC]