CLOSE AD
MARKET DATA

Tak Hanya Jadi Pasar, Strategi IISIA Capai Kedaulatan Industri Baja

Elga Nurmutia,  CNBC Indonesia
11 February 2026 18:29
Musyawarah Nasional IISIA 2026 di Jakarta, Rabu (11/2/2026)/Elga Nurmutia
Foto: Musyawarah Nasional IISIA 2026 di Jakarta, Rabu (11/2/2026)/Elga Nurmutia

Jakarta, CNBC Indonesia - Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia (The Indonesian Iron and Steel Industry Association/IISIA) menegaskan komitmennya dalam membangun ekosistem baja tanah air, sebagai mother of industry. Dengan begitu industri dalam negeri tidak hanya menjadi penonton ataupun sekedar pasar dari serbuan produk impor.

Hal ini ditegaskan oleh Chairman IISIA sekaligus Direktur Utama PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) Muhamad Akbar Djohan dalam Musyawarah Nasional (Munas) ke-5, Rabu (11/2/2026).

"Kita bersama-sama ingin dari hulu yang paling dalam hingga hilir yang paling ujung, semua adalah buah dari keringat dan kecerdasan anak bangsa," ujar Akbar Djohan.

Saat ini, lanjut dia, industri baja domestik dihadapkan oleh tantangan berat, seperti kondisi kelebihan pasokan (oversupply) baja di pasar global, fluktuasi harga bahan baku, dan serbuan produk impor.

Meski demikian Djohan menyebut, industri baja Indonesia menyimpan potensi yang luar biasa, terutama dengan pembangunan infrastruktur yang terus bergerak. Selain itu, program hilirisasi yang semakin masif, serta perkembangan industri manufaktur bisa menjadi katalis pertumbuhan.

"Namun, peluang itu akan sia-sia jika ekosistem kita rapuh. Tanpa fondasi yang kokoh, peningkatan permintaan baja hanya akan menjadi pintu masuk bagi produk luar," kata Akbar.

Maka dari itu, Akbar mengajak kepada seluruh pelaku usaha industri baja nasional untuk mempererat kemitraan dengan pemerintah agar iklim usaha di sektor baja yang sehat dan berkeadilan dapat tercipta.

"Munas V ini adalah ruang bagi kita untuk meramu ide, menyatukan visi, dan tentu memperkuat sinergi. Saya mengajak seluruh peserta, mari kita jadikan forum ini sebagai wadah untuk menghasilkan rekomendasi yang konkret, bukan sekadar retorika," jelas dia.

Sementara itu, Ketua Dewan Pengawas IISIA, Silmy Karim mengatakan Munas IISIA 2026 harus menjadi momentum untuk menentukan proyeksi arah pembangunan industri baja nasional. Untuk itu, diperlukan penguatan sinergi dari para pelaku usaha maupun pemerintah dalam menghadapi tantangan industri baja yang kompleks.

Menurut Silmy, penguatan industri baja bisa diwujudkan melalui dialog kebijakan yang berbasis data, integrasi rantai nilai industri dari hulu hingga hilir, serta penguatan kemitraan strategis antar industri, pemerintah, maupun lembaga penelitian dan pengembangan teknologi.

"Sebagai Ketua Dewan Pengawas, saya memandang bahwa penguatan industri besi dan baja nasional harus bertumpu pada beberapa pilar utama. Antara lain, penguatan struktur industri hulu dan hilir untuk mengurangi ketergantungan impor dan meningkatkan nilai tambah produk nasional. Kedua, peningkatan daya saing melalui inovasi teknologi dan transformasi digital industri," terang dia.

Silmy juga menegaskan, pengembangan sumber daya manusia (SDM) yang adaptif, kolaboratif dan berorientasi masa depan sangat diperlukan demi kemajuan industri baja nasional. Di samping itu, industri baja juga mesti mempercepat transisi menuju industri yang berkelanjutan melalui praktik produksi hijau dan efisien. Sektor ini juga memerlukan harmonisasi kebijakan dan kepastian hukum yang konsisten, adil dan berpihak pada penguatan industri secara nasional.

Dia pun mengharapkan Munas tahun ini bisa menghasilkan gagasan besar, komitmen bersama, keputusan strategis dan keberanian untuk melangkah lebih jauh. Industri baja tanah air juga diharapkan dapat memperkuat sinergi, memperkokoh kemandirian, dan mengakselerasi terwujudnya kedaulatan.

Dalam kesempatan yang sama, Presiden Direktur PT Garuda Yamato Steel, Tony Taniwan yang juga menjabat sebagai Vice Chairman IISIA mengatakan, pihaknya turut meminta dukungan dari kementerian terkait, seperti Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Investasi, Kementerian Keuangan, Kementerian Lingkungan Hidup, dan lembaga terkait lainnya. Sebab, dukungan spesifik seperti perlindungan perdagangan, kebijakan anti-dumping, kebijakan safeguard, pengawasan produk, kontrol di perbatasan, pengawasan setelah masuk post-border, dan kepastian penggunaan produk lokal sangat penting untuk menjaga iklim usaha industri baja nasional.

"Dengan dukungan pemerintah, industri baja Indonesia dapat menjadi mandiri, memenuhi semua kebutuhan baja dalam negeri, membangun industri yang kuat dan berkelanjutan. Ini tidak mungkin terjadi tanpa kerjasama erat antara semua pihak dan dukungan penuh dari pemerintah," ungkap dia.

Terlepas dari kondisi pasar yang menantang, kinerja industri logam yang mencakup produk baja tergolong positif. Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto dalam sambutannya menyatakan, pada 2025 kontribusi sektor industri logam terhadap Pertumbuhan Domestik Bruto (PDB) mencapai 15,71% atau melampaui rata-rata manufaktur dan PDB nasional.

Capaian tersebut ditopang oleh konsumsi baja domestik yaitu sebesar 19,3 juta ton atau lebih tinggi dari tahun sebelumnya yakni 18,6 juta ton. Hasil ini dipengaruhi oleh pertumbuhan permintaan di sektor konstruksi, khususnya program pembangunan 3 juta rumah. Kinerja industri ini juga ditopang oleh pertumbuhan sektor manufaktur, yang mana subsektor otomotif mencatat ekspor sekitar 500.000 unit pada 2025.

"Kapasitas produksi nasional sekitar 16-17 juta ton dengan utilisasi sekitar 70% industri baja, sebetulnya memiliki ruang besar untuk meningkatkan kinerja. Hilirisasi dijalankan secara konsisten dan membuahkan hasil nyata seperti lonjakan nilai ekspor, di mana feronikel menjadi komunitas unggulan dengan nilai mendekati 15 miliar dolar bulan Januari sampai dengan November 2025," jelas Airlangga.

Industri baja nasional juga disebut Airlangga tidak bergantung pada satu negara saja untuk kegiatan ekspor. Sejauh ini, China tetap menjadi tujuan ekspor utama dengan nilai lebih dari US$ 16 miliar. Namun, permintaan produk besi-baja dari Australia juga tak kalah besar yakni mencapai US$ 1,6 miliar. Singapura dan Inggris juga punya minat tinggi terhadap produk baja buatan lokal.

Tak hanya itu, kinerja investasi sektor baja nasional juga cukup memuaskan lantaran mengalami kenaikan dua kali lipat dari US$ 8 miliar pada 2024 menjadi US$ 16,37 miliar pada 2025. Investasi tersebut datang dari Hong Kong yakni sebesar US$ 5,11 miliar, Singapura sebesar US$ 5,12 miliar, dan China sebesar US$ 4 miliar.

Sejalan dengan IISIA, Airlangga juga meminta agar para pelaku industri baja nasional selalu waspada terhadap masalah oversupply di pasar global, di mana pasokan baja global diperkirakan naik menjadi 2,5 miliar ton pada 2025.

"Mulai tahun 2026, isu dekarbonisasi dan carbon border adjustment mechanism ini menjadi hal yang harus diperhatikan. Transportasi menjadi green steel terutama di sektor energi, ini penting untuk mendorong teknologi yang rendah karbon," tambah Airlangga.

(rah/rah)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Bos KS Sebut Prorgram 3 Juta Rumah Bisa Jadi Penyelamat Baja RI


Most Popular
Features